✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Keikhlasan Mendatangkan Berkah


          Aku menggerutu karena hingga sore ini adik belum juga pulang dari sekolah. Seharusnya belanja adalah tugasnya sedangkan tugasku adalah memasak. Hari-hari sebelum Ramadhan juga selalu aku yang melakukan dua hal ini sekaligus, aku hanya minta satu pengecualian khusus di Bulan ini. Jika tidak karena adik setelat ini, aku tidak akan berpanas-panas-ria dikerumunan orang yang sibuk belanja untuk keperluan buka puasa. Dan yang paling membuatku semakin geram adalah karena aku sendiri belum tahu apa yang akan aku masak sore ini.
          Aku mengusap keringat di bawah hidung dengan sapu tangan dan menutul-nutulkannya pada bagian wajah yang lain. Mataku jelalatan mencari tempat untuk duduk seraya berfikir apa yang harus aku beli. Untung saja tak beberapa lama aku menemukannya dan langsung duduk tanpa melihat orang-orang di kanan-kiriku, kuambil dompetku dan melihat isinya seraya berpikir tentang apa yang seharusnya aku beli sore ini.
          “nak, beli tape ketan?” Tanya seorang ibu paruh baya menawarkan barang dagangannya ke arahku. Dengan sigap aku mengangkat tangan sambil menggeleng dua kali, padahal aku tau pasti kalau adik sangat menyukai tape ketan. Biar saja, buat apa aku susah-susah membeli makanan itu hanya untuk menyenangkan hatinya? Lagipula aku hanya membawa uang tiga puluh ribu rupiah saja dalam dompetku.
          “ndak terimakasih” jawabku tak acuh, dan kembali fokus pada apa yang aku pikirkan. Namun rupanya ibu itu tak mengerti apa maksud dari kata-kataku, karena ia menawarkan tape ketan jualannya sekali lagi.
          “nak, ini tape ketan manis…buat buka puasa” katanya lagi. Aku kembali memandangnya, dan entah mengapa aku merasa sebal karena ibu itu tak juga mau mengerti.
          “buka puasa kok sama tape ketan, yang ada perut malah makin perih kalau belum makan nasi terlebih dulu” kata-kataku tak begitu keras, namun terdengar sangat jelas. Ibu itu menurunkan tangannya dan menaruh kembali sebungkus tape ketan dalam keranjangnya.
          “mau belanja apa nak… Buat buka puasa sama suaminya nanti ya?” aku membelalak. Suami?
          “saya belum nikah bu. Iya, ini lagi mikir mau belanja apa buat buka puasa nanti” jawabku. Aku melirik ibu itu sekali lagi, kini mataku lebih memperhatikannya dengan seksama. Tubuhnya kecil dan kurus, kulit di punggung tangannya terlihat hitam terbakar terik mentari. Jilbabnya sangat lusuh dengan banyak noda yang menempel, ibu itu memakai gamis yang sudah terlihat sangat usang, dan… Masya Allah…ia tidak memakai sandal dihari sepanas ini.
          Ibu itu kembali mengambil sebungkus tape ketan dagangannya dan melihatnya dengan tatapan sayu. Sepertinya tape ketan dalam keranjangnya itu belum ada yang terjual sama sekali. Tiba-tiba saja hatiku terenyuh, sakit sekali. Aku tadi telah berkata sangat kasar padanya.
          “em…maaf bu… apa ibu ndak memasak sesuatu untuk buka puasa dengan keluarga ibu di rumah?” tanyaku, kali ini aku berusaha agar suaraku terdengar selembut mungkin.
          “ya…kalau tape ketan ibu laku, uangnya ibu pakai buat beli beras dan sedikit lauk nak…” jawabnya, sama sekali tidak terdengar terbebani dengan apa yang ia katakan.
          “kalau… ndak laku?”
          “ya tape ketan ini jadi menu buka puasa kami” jawabnya lagi, tersenyum ringan.
Hatiku kembali miris, sakitnya seperti tertancap paku. Ya Allah… mengapa aku baru menyadari betapa kejamnya aku beberapa menit yang lalu.
          “bu..” aku memegang lengan baju ibu itu dengan lembut dan meneruskan kata-kataku, “maafkan saya ya… tadi perkataan saya pasti menyinggung hati ibu…” aku menahan air mata agar tidak menetes. Ibu itu kembali tersenyum dan berkata,
          “ndak apa-apa nak, tape ketan memang harus dimakan setelah selesai makan nasi supaya ndak sakit perut”
Air mataku jatuh, Subhanallah…bahkan ibu itu sama sekali tidak marah dengan apa yang telah aku lakukan padanya.
          “bu… sebenarnya adik saya sangat suka tape ketan ini, tapi karena saya sedang marah dengannya, saya jadi mengatakan kata-kata kasar pada ibu saat ibu menawarkan itu pada saya” ucapku terus terang. “bu, berapa harga satu bungkus tape ketan itu? Saya beli lima ya bu…” lanjutku tanpa memikirkan betapa marahnya aku pada adik. Aku hanya ingin menebus kesalahanku pada ibu penjual tape ketan itu.
         “lima nak? Alhamdulillah… Perbungkusnya dua ribu” senyuman ibu itu merekah semakin lebar, perlahan meringankan luka sayatan dalam hatiku. Aku memberinya uang sepuluh ribu dan menerima lima bungkus tape ketan itu dengan hati yang amat sangat lega. Setelah memberikan jualannya, ibu itu kemudian pergi seraya membawa keranjangnya dan kembali menawarkannya pada orang lain.
          Akhirnya aku memutuskan untuk membeli beberapa terung, bumbu-bumbu, serta tempe dan tahu untuk menu buka puasa hari ini. Ketika tiba di rumah, adik berlari untuk menemuiku dan meminta maaf, namun segala bentuk kemarahanku padanya sudah hilang tak berbekas.
          “ndak apa-apa, lain kali bilang kalau mau pulang telat. Tuh ada tape ketan, aku beli di pasar tadi” kataku.
          “wah, padahal aku sudah siap dimarahi lho!” jawabnya menggodaku, aku berusaha menahan tawa karenanya.
          “tolong bantu aku mencuci terung itu, dan keluarkan bahan-bahan yang ada dalam keresek. Eh, hati-hati di dalamnya ada uang kembalian sepuluh ribu rupiah” perintahku pada adik, seraya sibuk dengan bumbu-bumbu yang akan aku olah.
          “benar cuma sepuluh ribu?”
          “iya. Kenapa?”
          “berarti sisanya buatku dong?” jawab adik lagi. Aku mengerutkan kening, mendekati adik dan melihat dua lembar uang dua puluh ribuan dalam keresek hitam itu.
          Masya Allah… Ibu penjual sayur itu mungkin keliru melihat uang dua puluh ribu yang aku berikan padanya dengan uang lima puluh ribuan. Aku sama sekali tak menyadari hal ini. Aku tersenyum, dan berulang kali mengucap Alhamdulillah dalam hati, namun aku berjanji akan mengembalikan uang ini pada pemiliknya besok. Pasti.
______________

25-07-2012
Kisah ini aku ambil berdasarkan pengalaman nyata, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.
Selamat Menjalankan ibadah puasa dengan hati yang penuh keikhlasan ^_^

Oleh: Ai Lynn
Read More

Senin, 25 Juni 2012

Wanita Pertama Yang Masuk Surga


Assalamu'alaikum, wr, wb... 
 
Dan siapakah nama wanita itu? Dia adalah Muti’ah.
Kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.
Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.
Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

Subhanallah.

***
Sumber: Kaskus.us
Wassalamu'alaikum, wr, wb...
Read More

Kesabaran Imam Al-Baqir


 
Assalamu'alaikum, wr, wb...
 
Seorang Nasrani bermaksud mengejek-ejek Imam Muhammad bin Ali bin Husain yang digelari orang dengan panggilan “Al-Baqir” (yang luas pentahuannya). Orang Nasrani itu berkata kepadanya:
“Engkau adalah baqar (lembu).” Maka Imam Baqir menjawab dengan penuh kelembutan:
“Bukan, tetapi saya adalah Al-Baqir.”
Orang Nasrani tersebut tidak menghiraukan jawaban itu. Selanjutnya ia berkata:
“Engkau adalah anak seorang tukang masak. Engkau adalah anak seorang wanita hitam yang mulutnya berbau busuk.” Al-Baqir menjawab:
 “Seandainya engkau benar, maka aku doakan semoga wanita itu diampuni oleh Allah, dan jika engkau bohong, maka aku doakan semoga Allah mengampunimu.”
Ternyata sikap lemah-lembut dan pemaaf yang dimiliki oleh Imam Muhammad bin Ali bin Husain itu telah menimbulkan rasa kagum pada diri orang Nasrani tersebut, sehingga akhirnya diapun bertaubat untuk tidak mengulangi lagi perangai buruknya itu dan menyatakan dirinya masuk ke dalam agama Islam.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kekuatan itu tidak dibuktikan dengan kemenangan yang terus menerus. Tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah. [Bukhari & Muslim]
Innallaha Ma’ashobirin:  Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

***
Oleh: Miftachul Arifin
 
Wassalamu'alaikum, wr, wb...
Read More

Sayidatina Fatimah r.a




Assalamu'alaikum, wr, wb

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Dibalik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah SWT. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sembahyang, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.
Diwaktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah SAW.
Setelah menikah kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.a, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah SWT untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang kepergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir. Kadangkala dia lapar sepanjanghari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu menceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah SAW. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali, kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu. Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.a sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah SWT mengangkat derajatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Selain itu, kemiskinan tidak menghalangi Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari
Read More

Keajaiban Basmalah

 
Assalamu'alaikum, wr, wb
 
Syaikh Muhammad As-Sanwani, Grand Syaikh Al-Azhar Mesir yang ke-13, dalam kitabnya yang bernama “Hasyiyah Ala Mukhtashar Ibnu Jamrah” yang berisi penjelasan kitab Mukhtashar Shahih Bukhari, menulis beberapa kisah nyata tentang keajaiban basmalah.
Di antaranya, beliau menuturkan, “Suatu ketika Abu Hurairah ra.,salah seorang sahabat nabi terkenal, bertemu dengan setan penggoda orang mukmin dan setan penggoda orang kafir. Setan penggoda orang kafir itu gemuk, segar, rapi, dan memakai baju bagus. Sedangkan setan penggoda orang mukmin kurus, kering, kusut, dan telanjang.
Setan gemuk itu bertanya pada setan penggoda kaum mukmin yang kurus, “Kenapa keadaanmu menyedihkan, kau kurus kering, kusut dan telanjang ?”
Setan kurus menjawab, “Aku bertugas menggoda orang mukmin yang selalu berzikir dan membaca basmalah menyebut nama Allah. Ketika hendak makan dan minum ia membaca basmalah menyebut nama Allah, maka aku tetap lapar dan haus. Ketika memakai minyak ia menyebut nama Allah, maka aku tetap kusut. Dan ketika memakai baju ia juga menyebut nama Allah sehingga aku tetap telanjang ! “
Setan gemuk menyahut, “Kalau begitu aku beruntung. Aku bersama orang kafir yang tidak pernah menyebut nama Allah. Pada waktu makan ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa makan bersamanya sampai puas. Ketika minum dia juga tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa ikut minum. Ketika memakai minyak ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut minyakan. Dan ketika memakai pakaian ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut memakai pakaiannya.”

***
Begitulah, betapa agung faidah membaca basmalah. Setan tidak bisa ikut makan makanan orang yang membaca “Bismillahirrahmanirrahim !”
Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, bahwa rumah yang dibacakan basmalah maka setan tidak akan bercokol dan bermalam di dalamnya.
Baginda Rasulullah Saw mengajarkan agar umatnya memulai segala perbuatan baiknya dengan membaca basmalah, menyebut nama Allah SWT. Agar perbuatannya itu benar-benar penuh berkah, tidak diganggu setan dan mendapatkan ridha dari Allah Yang Maha Rahman.
___________

Sumber Tulisan Oleh : Habiburrahman El Shirazy
(Di Atas Sajadah Cinta, Penerbit Republika, Cetakan X, September 2006)

Wassalamu'alaikum, wr, wb

Read More

Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya


 
Assalamu'alaikum, wr, wb... 

Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi.
Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata:
“Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.
Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: 
“Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”
“Tidak Bi”, jawab anak itu,
“tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”

Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya.

***
 Dari Sahabat
Wassalamu'alaikum, wr, wb
Read More

Jumat, 25 Mei 2012

Aku Ingin Berjuang!


Seorang pemuda belia dari kabilah Aslam sedang termenung sendirian agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu bertubuh kuat, gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh berbagai tantangan. Badannya tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang sedang dilakukan oleh yang lain, jihad fisabilillah.
Adakah jalan yang lebih afdol dan lebih mulia dari jihad fisabilillah...? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dan ridho Allah SWT.
“Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Yah, sebab disana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju juang jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakkan wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal berpantang mati. Maut akan menimpa dimanapun kita berada. Yakin bahwa umur itu satu. Kapan akan sampai batasnya, hanya Allah yang Maha Tahu. Bagaimana sebab dan kejadiannya, takdir Allah-lah yang menentukan.
Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari manusia. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah disaat manusia sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin berada dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, ataukah di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas tempat tidurnya. Semua itu hanya Allah-lah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya.
Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya diri sendirilah yang dapat dibawa menghadap penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci ditengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan angan-angan dan tujuan harapan mereka.
Mereka yakin, dibalik hiruk-pikuknya peperangan, Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal baginya. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagi noda. Baik itu berupa noda-noda aqidah, niat-niat jahat, berbagi dosa perbuatan ataupun kekotoran mu’amalah yang lain. Pengorbanan mereka yang mulia itu menunjukan kepribadian yang baik dan luhur. Semua sesuai dengan ajaran agama yang murni. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercusuar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.
Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus ! harus dan mesti aku berbut sesuatu. Jangan kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hambatan dan penghalang mencapai tujuanku.”
Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi, pemuda tersebut menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu memang masih belia, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauannya keras, ketangkasan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitanya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuang?
Sebabnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan senjata apa-apa yang dapat dipakainya untuk berperang karena kemiskinan dan kefakiranya. Sebab pikirnya, tidak mungkin untuk terjuang ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan berfungsi apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja, dia tidak mampu. Inilah yang menjadikan pemuda itu berfikir panjang lebar. Otaknya bekerja keras agar hasratnya yang besar berjuang dapat tercapai.
Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah SAW. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidak mengharapkan apa-apa dari keikutsertaannya berjuang. Dikatakannya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah. Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah.
Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?”
“Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” jawab pemuda itu.
 “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, tanya Rasulullah SAW kemudian.
“Saya tidak mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjuangan itu ya Rasulullah”, jawab pemuda tersebut terus terang.
Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila terdengar panggilan seruan untuk berjuang jihad fisabilillah.
Demi Allah! Jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dalam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja. Celakalah mereka yang besar dan tegap badan serta tubuhnya namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya.
“Kebanggaanlah bagimu yang tepat hai pemuda! semogalah Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi kemuliaan Islam, budi pekerti yang mulia menuju alam yang bahagia sejahtera lahir batin.”
Benar, kaum muslimin sangat memrlukan jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnya pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasrat cita-cita keinginan itu. Rasulullah SAW akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut:
“Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan peralatan berperang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.”
Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Katanya kepada si Fulan:
“Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.”
Orang yang tidak jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil mengucapkan:
“Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah SAW.”
Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan terimakasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap:
“Terima kasih sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terimakasih… Terimakasih.”
Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Wajahnya bersinar gembira. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temannya yang keheranan. Tanyanya:
 “Hai, hendak kemana engkau?”
 “Aku akan menuju janntul firdaus yang selebar langit dan bumi”, jawab pemuda itu dengan singkat dan jelas.


Sumber: Zilzaal
Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena