✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label My Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Short Stories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Semangkuk Cinta #3


Rogojampi 2001|

             Baru kali ini aku tak sabar masuk sekolah sejak hujan pertama bulan Desember.
            Rasanya hari minggu ini lamaaa…sekali. Setelah beberapa menit senyum senyum sendiri di balik jendela kamarku yang basah oleh hujan, aku  memutuskan untuk pergi menemui Dian, untuk memastikan ia juga akan membawa “itu” ke sekolah. Meski tidak membelinya pada waktu bersamaan, tapi warna yang kami pilih sama persis, biru muda! Diam-diam aku meninggalkan kamar menuju pintu depan, sepertinya ibu sedang sibuk melakukan sesuatu di dapur.
            “buuu….aku ke rumah diaan…” teriakku sambil lalu. Tentu saja aku tak boleh mendengarkan izin ibu terlebih dahulu, bagaimana jika tidak boleh? Benar kan!
            Aku berlari keluar rumah dengan payung berstempel BRI yang biasa dipakai ibu. Ternyata payung itu jauh lebih berat dari dugaanku, sehingga mengangkatnya saja sudah sangat sulit. Samar-samar aku mendengar teriakan ibu dari jauh “Lin hujaaaan!” tapi sudahlah.
            “heii banguuun!” aku mengguncang tubuh Dian kuat-kuat untuk membangunkannya. Aku tahu sekarang ini memang waktunya tidur siang, tapi aku benar-benar harus memastikannya. Dian menggeliat, raut wajahnya mengatakan Pergi sana! ke arahku. Aku tak peduli.
            “Apa?!” lirihnya.
            “besok kamu bawa ituu kan? Harus! Besok pasti hujan sepulang sekolah” kataku sumringah.
            “hmm…” Dian mengganggukkan kepalanya satu kali.
            “Janji?”
            “Janji” kita melakukan janji kelingking.
            “terus?”
            “apanya?”
            “terus apa lagi yang ingin kamu bicarakan?”
            “sudah cuma itu” aku mengedikkan bahu. Ia memandangku tak percaya dan masih dengan wajah jengkelnya ketika kembali berbaring. Memang cuma itu yang ingin aku sampaikan, tapi aku tak ingin segera pulang mengingat betapa susahnya perjuanganku berlari dengan payung super besar di atasku. Jadi kuputuskan untuk tidur disampingnya siang itu.

            “Lin, dian, mana payungmu?” Tanya Sofia pada jam istirahat. Aku dan Dian saling melirik satu sama lain. Kami sudah memutuskan untuk memberi tahu Sofia rahasia kita.
            “Aku tidak membawa payung, Dian juga. Kita membawa jas hujan!” bisikku. Dian mengangguk bersemangat mengiyakan. Seperti yang kuduga, Sofia langsung memperlihatkan mimik kagumnya ke arah kami.
            “mana? Mana? Aku mau lihaaat”
            “sudahlah, nanti juga tahu” sahut Dian. Aku meliriknya kesal. Padahal aku sudah bersiap-siap membuka tasku untuk menunjukkannya pada Sofia.

            Akhirnya bel pulang sekolah terdengar juga. Teman-teman sekelas mulai berhamburan ricuh karena hujan siang itu terlalu deras untuk diterjang oleh para lelaki, seperti anak kecil saja, pikirku. Mereka yang membawa payung juga ikut-ikutan ricuh karena payung saja tak cukup melindungi mereka dari angin yang menerbangkan hujan. Aku mengeluarkan jas hujan biru muda dari dalam tas dan mulai memakainya, Dian juga melakukan hal yang sama. Aku merasakan suasana mulai hening dan semua anak memandang ke arah kami. Mungkin karena kami yang pertama kali punya jas hujan kecil seperti ini di kelas.
            Jas hujan kami berwarna biru muda dengan model yang sama persis, atasan baju lengan selutut dengan hoodie pelindung kepala dan bawahan celana panjang. Hanya gambar pada jas hujan itulah yang membedakannya. Kami memakainya secepat kilat hingga melupakan satu hal, bagaimana dengan tas kami?
            “bagaimana caramu memakai tas?” celetukku pada Dian. Ia memandangku dengan pandangan yang sama.
            “coba kita pakai dulu tasnya lalu kita pakai jas hujannya” jawabnya. Kami mencobanya. Tiba-tiba segerombolan anak lelaki terbahak sambil berteriak ke arah kami.
            “hei, ada orang bungkuk! hahahahaa”
            Wajah kami memerah karena malu, benar juga... kami jadi terlihat seperti orang bungkuk. Lagi pula ternyata jas hujan ini sama sekali tidak melindungi sepatu kami. Aku cepat-cepat menanggalkan jas hujan yang sudah dua kali kupakai itu kemudian berpikir keras.
            “bagaimana kalau kita bungkus tas dan sepatu kita dengan jas hujan ini? tak masalah baju kita basah, nanti kan bisa dijemur? Tapi kalau sepatu dan tas lama sekali keringnya” jelasku pada dian panjang lebar. Dian sepertinya setuju dengan ide cemerlangku dan perlahan membuka jas hujannya. Kami membuka sepatu dan kaos kaki lalu membungkusnya dengan atasan jas hujan bersamaan dengan tas. Setelah rapi terbungkus, kami mulai bersiap-siap keluar kelas.
            “kalian ini sedang apa?” Tanya Sofia yang dari tadi memperhatikan kami dengan raut keheranan di wajahnya. Kami tersenyum bersamaan.
            “maaf sof, kami tak bisa pulang denganmu karena kami harus lari secepat kilat sambil membawa ini” kata Dian seraya menunjuk bungkusan yang mirip kantong sampah berwarna biru. Aku mengangguk. Sofia hanya mengedikkan bahunya seakan berkata “terserah” dalam hati.

            Aku berlari sekuat tenaga bersama Dian menerjang hujan yang sepertinya tak mau mengalah sama sekali. Karena tas dan sepatu kami lumayan berat, kami menyeretnya sepanjang jalan menuju rumah. Rasanya menyenangkan sekali. Entah mengapa aku merasa puas karena jas hujan ini bisa melindungi tas dan sepatuku dengan sempurna meskipun kami harus berkorban basah kuyub demi itu.
            Akhirnya kami berpisah dipersimpangan jalan, masih dengan tawa penuh kemenangan. Dengan polosnya aku membuka pintu rumah dan menerobos masuk menuju dapur. Seantero ruangan jadi bau tanah dan basah oleh air yang menetes dari sekujur tubuhku. Setelah melemparkan bungkusan tas dan sepatu, aku langsung ke kamar mandi untuk berbilas sebelum kemudian ibu muncul dari dalam kamar dengan suara seperti tercekik.
            “Masya Allah nak… kok bisa basah semua to nduk…” aku meringis tanpa dosa dan menjelaskan apa yang baru saja aku lakukan.
            “Ya Allah… coba lihat ini!” ibu mengambil jas hujan yang membungkus tas dan sepatuku dan melebarkannya agar aku bisa melihat dengan jelas. Seketika itu juga rasa puas dan bangga dalam dadaku menguap begitu saja ketika melihat jas hujanku dalam kondisi sangat kritis. Terdapat lubang dan sobekan dimana-mana dan kotornya……minta ampun.
            “kalau sudah seperti ini tak mungkin bisa kamu pakai lagi” ujar ibu, nadanya terdengar sedih. Setelah itu aku hanya bisa meratapi jas hujan biru muda yang baru saja aku pakai hari ini sambil terisak keras. Ibu tak henti-hentinya mengatakan “sudahlah, kita beli yang baru dengan kesepakatan tak boleh memakainya untuk membungkus apapun lagi”. Tapi aku menolaknya. Tidak jas hujan lagi.

            Esoknya di sekolah. Kulihat raut wajah Dian sama muramnya denganku, aku tak tahu apakan nasib jas hujannya sama seperti jas hujanku atau malah lebih parah. Aku tak mau bertanya, karena sejak itu kami memutuskan untuk tidak membahas apapun yang berhubungan dengan jas hujan.
            “Lin, Dian, coba lihat jas hujan baruku!” kata beberapa anak di kelas seusai sekolah. Mereka mengeluarkan setelan jas hujan seperti punya kami dengan warna-warna yang kekanakan, menurutku. “Keluarkan jas hujan kalian, kita pulang sama-sama yuk!”
            “percuma pakai jas hujan, yang penting kan kepala kita terlindungi dari hujan” kata Dian seraya berjalan keluar kelas dengan payung kecil seukurannya.
            Aku menahan air mata sekuat tenaga sambil membuka payung BRI milik ibu yang kebesaran lalu berlari pulang menuju rumah.
____________________________________

Read More

Semangkuk Cinta #2


Rogojampi, 2004 |

            “Assalamu’alaikuuuum…” teriakku ketika masuk kelas dengan menenteng sekeresek besar bungkusan-bungkusan susu kedelai di tangan kananku.
“Wa’alaikum salam!” Sontak sebagian penghuni kelas mengerumuniku. Dengan santainya aku meletakkan keresek itu di atas bangkuku dan membiarkan teman-teman mengambil pesanan mereka. Satu persatu mereka menyodorkan uang receh lima ratus rupiah ke arahku yang langsung aku masukkan ke dalam saku. Tak beberapa lama bel masuk berbunyi.
            “sayang nggak bisa diminum sekarang, sudah masuk” bisik Dian, teman sebangkuku. Aku senang melihat wajah kecewanya ketika memasukkan bungkusan susu kedelai ke laci bawah bangku.
            “sst…kita minum diam-diam saja selagi pak guru menjelaskan!” balasku berbisik. Kami berdua terkikik bersamaan, namun memutuskan untuk meletakkannya kembali dalam laci.

            “ini bu, lima ribu” aku memberikan uang receh kepada ibu.
            “lho? Kan tadi ibu bawakan dua belas bungkus?”
            “yang dua aku minum sendiri” jawabku tanpa dosa.
            “kan Lin sudah bawa satu untuk diminum? Jadi totalnya tiga belas bungkus”
            “ah…berarti aku minum tiga bu! Hehehe”
            Ibu hanya tertawa menggelengkan kepalanya seraya meletakkan uang receh itu ke dalam gelas plastik di atas kulkas. Aku meminta gelas itu, menumpahkan isinya ke lantai dan mulai menghitung hasil yang kami peroleh hari ini. Semakin bertambah dari hari pertama kami menjualnya.
            Ibu juga menambah bahan kedelai lebih banyak dan hampir tiap malam aku menemani ibu membungkus susu kedelai, terkadang aku dan adik mengerjakan PR disamping ibu yang tengah serius membungkus atau membantunya mengaduk-aduk susu kedelai dalam panci di atas kompor. Ibu memberikan perasa buah-buahan pada susu kedelai yang sudah akan dibungkusnya. Aku dan adik mendapat kesempatan memilihkan rasa-rasa itu dan selalu berharap ada sisa di baskom yang terlalu sedikit untuk ikut dibungkus.
Ibu… Ibu yang tak pernah berhenti tersenyum meski harus semalaman mengerjakan itu setelah seharian membereskan pekerjaan rumah dan memasakkan makanan untuk kami bertiga setiap hari…

|| Rogojampi, 1999 ||

            “lho? Kok ibu ikut mengantar juga?” lirihan pelan yang kutujukan pada ayah rupanya terdengar juga oleh ibu.
            “ibu kan juga ingin melambaikan tangan ketika Lin masuk ke dalam sekolah” bisik ibu di dekat telingaku. Aku hanya menunduk.
            Sehari sebelumnya Shinta pernah berkata padaku dan teman-teman yang lain. Bahwa anak yang diantar sekolah oleh ibunya itu adalah anak manja dan dia tidak mau berteman dengan anak manja. Ada diantara teman-temanku yang ikut mendengarkan menangis seketika karena ibunya tak hanya mengantar, tapi bahkan menunggunya hingga sekolah usai. Bagaimana jika Shinta tak mau berteman denganku lagi?
            “sudah yaah….sampai sini saja!”
            “kenapa?” meski keheranan ayah tetap menghentikan motor di depan masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari sekolahku, Aisyah Bustanul Atfal. Seketika aku bergegas turun dari motor. Ibu yang duduk di belakang ayah sambil menggendong adik, menghentikan langkahku.
            “kenapa to nduk?”
            Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin sekali menangis. Namun aku berhasil mencegahnya dengan berteriak kepada ibu.
            “Lin malu kalau ibu ikut mengantar!” aku berlari ke arah gerbang sekolah tanpa berpamitan dan tanpa melihat ke belakang lagi. Langkah kakiku yang pendek membuat gerbang terasa sangat jauh. Aku tahu ibu masih memandangiku di depan masjid dengan pandangan sedih.
            Sejak awal ibu memang tak pernah mengantarku apalagi menungguiku di sekolah. Hanya pada saat pertama kali aku masuk sekolah, karena ibu harus merawat adik yang masih berumur kurang dari dua tahun. Kakiku berhenti berlari. Kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajahku dan menangis. Aku ingin melihat ke belakang sekali lagi. Apa ibu masih berdiri disana? Apa ibu juga menangis sama sepertiku? Apa ibu masih ingin melambaikan tangan padaku seingin aku melambaikan tangan padanya? Tapi aku tak pernah tahu.
Read More

Selasa, 04 November 2014

Semangkuk Cinta #1


“ibu bikin apa?”
“bikin susu sari kedelai, nanti kita jual nduk, buat tambah-tambah uang jajanmu”
“asyiik…., tapi bu, aku lebih suka bawa ini untuk saku di sekolah, jadi ndak perlu uang jajan”
“iya, tapi tetap harus dijual, buat makan kita juga to nduk” ibu tersenyum mengusap rambutku.
“o….” dengan polosnya aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-kata ibu.
            Malam itu aku menghabiskan waktu menemani ibu membungkus satu persatu sari kedelai dari baskom besar ke plastik-plastik kecil. Aku tak membantu, hanya bercerita banyak-banyak tentang apa yang terjadi hari ini dari berangkat sekolah hingga pulang. Sesekali ibu tertawa mendengarnya, membuatku semakin semangat untuk bercerita hingga bungkusan terakhir diletakkan ibu ke dalam keranjang plastik. Sembari membangunkan ayah yang terlelap di depan tv untuk menggendong adik ke tempat tidurnya, ibu memintaku untuk menata bungkusan-bungkusan susu ke dalam kulkas.
            “ibu, apakah kita akan menjualnya berkeliling kampung?”
            “tidak sayang, kita akan menjualnya disini, biar orang-orang yang datang kemari untuk membeli. Nanti kita tempel tulisan ‘jual susu kedelai’ di depan pintu rumah ya?”
            “iyaa” jawabku bersemangat.

            “ibuuuu….. aku pulaaaang” aku menyembur masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan betapa sepatu yang masih kukenakan mengotori lantai rumah dari ruang tamu hingga dapur.
            “wa’alaikum salaam…” jawab ibu yang tengah mencuci piring di westafel. Aku tersipu.
            “as…salamu’alaikuum… hehehe. Lupa” dalihku, seraya mencium tangan kanan ibu yang basah. Langsung saja aku tanggalkan seragam sekolahku, bertumpukan dengan sepatu dan tas warna coklat kesayanganku, lalu berlari ke kamar mandi mengabaikan teriakan lembut ibu yang menyuruhku menaruh semua barang-barang itu pada tempatnya.
            “bu…bu, tadi teman-teman banyak yang minta susu yang aku bawa. Dian, Sofia, Intan, Indah, banyak bu. Kata mereka besok aku harus membawa lagi” jelasku ketika keluar dari kamar mandi. Ibu hanya tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan barang-barangku. Dan sekali lagi aku mengabaikannya.
            “lalu aku bilang, ibuku jualan susu kedelai di rumah. Kalo mau ya beli! Hahaha” entah kenapa pada saat itu aku sudah bisa berfikir tentang bisnis.
            “lalu?”
            “besok aku bantuin jual ke sekolah ya bu? Pasti laku! Banyak yang suka kok bu…”
            “kamu ndak malu jualan di sekolah?”
            “ndak bu!”
Aku hampir melompat kegirangan ketika ibu mengangguk dengan senyuman. Aku memeluk perutnya dan berlari keluar dapur, takut kalau tiba-tiba ibu sadar aku belum membereskan barang-barangku. Mana bisa, tak ada waktu! Aku ada janji dengan Dian akan main di rumahnya sepulang sekolah. Namun yang kudengar teriakan ibu dari dapur adalah:
“jangan lupa pakai baju!”
 
===========================



Read More

Kamis, 16 Agustus 2012

Keikhlasan Mendatangkan Berkah


          Aku menggerutu karena hingga sore ini adik belum juga pulang dari sekolah. Seharusnya belanja adalah tugasnya sedangkan tugasku adalah memasak. Hari-hari sebelum Ramadhan juga selalu aku yang melakukan dua hal ini sekaligus, aku hanya minta satu pengecualian khusus di Bulan ini. Jika tidak karena adik setelat ini, aku tidak akan berpanas-panas-ria dikerumunan orang yang sibuk belanja untuk keperluan buka puasa. Dan yang paling membuatku semakin geram adalah karena aku sendiri belum tahu apa yang akan aku masak sore ini.
          Aku mengusap keringat di bawah hidung dengan sapu tangan dan menutul-nutulkannya pada bagian wajah yang lain. Mataku jelalatan mencari tempat untuk duduk seraya berfikir apa yang harus aku beli. Untung saja tak beberapa lama aku menemukannya dan langsung duduk tanpa melihat orang-orang di kanan-kiriku, kuambil dompetku dan melihat isinya seraya berpikir tentang apa yang seharusnya aku beli sore ini.
          “nak, beli tape ketan?” Tanya seorang ibu paruh baya menawarkan barang dagangannya ke arahku. Dengan sigap aku mengangkat tangan sambil menggeleng dua kali, padahal aku tau pasti kalau adik sangat menyukai tape ketan. Biar saja, buat apa aku susah-susah membeli makanan itu hanya untuk menyenangkan hatinya? Lagipula aku hanya membawa uang tiga puluh ribu rupiah saja dalam dompetku.
          “ndak terimakasih” jawabku tak acuh, dan kembali fokus pada apa yang aku pikirkan. Namun rupanya ibu itu tak mengerti apa maksud dari kata-kataku, karena ia menawarkan tape ketan jualannya sekali lagi.
          “nak, ini tape ketan manis…buat buka puasa” katanya lagi. Aku kembali memandangnya, dan entah mengapa aku merasa sebal karena ibu itu tak juga mau mengerti.
          “buka puasa kok sama tape ketan, yang ada perut malah makin perih kalau belum makan nasi terlebih dulu” kata-kataku tak begitu keras, namun terdengar sangat jelas. Ibu itu menurunkan tangannya dan menaruh kembali sebungkus tape ketan dalam keranjangnya.
          “mau belanja apa nak… Buat buka puasa sama suaminya nanti ya?” aku membelalak. Suami?
          “saya belum nikah bu. Iya, ini lagi mikir mau belanja apa buat buka puasa nanti” jawabku. Aku melirik ibu itu sekali lagi, kini mataku lebih memperhatikannya dengan seksama. Tubuhnya kecil dan kurus, kulit di punggung tangannya terlihat hitam terbakar terik mentari. Jilbabnya sangat lusuh dengan banyak noda yang menempel, ibu itu memakai gamis yang sudah terlihat sangat usang, dan… Masya Allah…ia tidak memakai sandal dihari sepanas ini.
          Ibu itu kembali mengambil sebungkus tape ketan dagangannya dan melihatnya dengan tatapan sayu. Sepertinya tape ketan dalam keranjangnya itu belum ada yang terjual sama sekali. Tiba-tiba saja hatiku terenyuh, sakit sekali. Aku tadi telah berkata sangat kasar padanya.
          “em…maaf bu… apa ibu ndak memasak sesuatu untuk buka puasa dengan keluarga ibu di rumah?” tanyaku, kali ini aku berusaha agar suaraku terdengar selembut mungkin.
          “ya…kalau tape ketan ibu laku, uangnya ibu pakai buat beli beras dan sedikit lauk nak…” jawabnya, sama sekali tidak terdengar terbebani dengan apa yang ia katakan.
          “kalau… ndak laku?”
          “ya tape ketan ini jadi menu buka puasa kami” jawabnya lagi, tersenyum ringan.
Hatiku kembali miris, sakitnya seperti tertancap paku. Ya Allah… mengapa aku baru menyadari betapa kejamnya aku beberapa menit yang lalu.
          “bu..” aku memegang lengan baju ibu itu dengan lembut dan meneruskan kata-kataku, “maafkan saya ya… tadi perkataan saya pasti menyinggung hati ibu…” aku menahan air mata agar tidak menetes. Ibu itu kembali tersenyum dan berkata,
          “ndak apa-apa nak, tape ketan memang harus dimakan setelah selesai makan nasi supaya ndak sakit perut”
Air mataku jatuh, Subhanallah…bahkan ibu itu sama sekali tidak marah dengan apa yang telah aku lakukan padanya.
          “bu… sebenarnya adik saya sangat suka tape ketan ini, tapi karena saya sedang marah dengannya, saya jadi mengatakan kata-kata kasar pada ibu saat ibu menawarkan itu pada saya” ucapku terus terang. “bu, berapa harga satu bungkus tape ketan itu? Saya beli lima ya bu…” lanjutku tanpa memikirkan betapa marahnya aku pada adik. Aku hanya ingin menebus kesalahanku pada ibu penjual tape ketan itu.
         “lima nak? Alhamdulillah… Perbungkusnya dua ribu” senyuman ibu itu merekah semakin lebar, perlahan meringankan luka sayatan dalam hatiku. Aku memberinya uang sepuluh ribu dan menerima lima bungkus tape ketan itu dengan hati yang amat sangat lega. Setelah memberikan jualannya, ibu itu kemudian pergi seraya membawa keranjangnya dan kembali menawarkannya pada orang lain.
          Akhirnya aku memutuskan untuk membeli beberapa terung, bumbu-bumbu, serta tempe dan tahu untuk menu buka puasa hari ini. Ketika tiba di rumah, adik berlari untuk menemuiku dan meminta maaf, namun segala bentuk kemarahanku padanya sudah hilang tak berbekas.
          “ndak apa-apa, lain kali bilang kalau mau pulang telat. Tuh ada tape ketan, aku beli di pasar tadi” kataku.
          “wah, padahal aku sudah siap dimarahi lho!” jawabnya menggodaku, aku berusaha menahan tawa karenanya.
          “tolong bantu aku mencuci terung itu, dan keluarkan bahan-bahan yang ada dalam keresek. Eh, hati-hati di dalamnya ada uang kembalian sepuluh ribu rupiah” perintahku pada adik, seraya sibuk dengan bumbu-bumbu yang akan aku olah.
          “benar cuma sepuluh ribu?”
          “iya. Kenapa?”
          “berarti sisanya buatku dong?” jawab adik lagi. Aku mengerutkan kening, mendekati adik dan melihat dua lembar uang dua puluh ribuan dalam keresek hitam itu.
          Masya Allah… Ibu penjual sayur itu mungkin keliru melihat uang dua puluh ribu yang aku berikan padanya dengan uang lima puluh ribuan. Aku sama sekali tak menyadari hal ini. Aku tersenyum, dan berulang kali mengucap Alhamdulillah dalam hati, namun aku berjanji akan mengembalikan uang ini pada pemiliknya besok. Pasti.
______________

25-07-2012
Kisah ini aku ambil berdasarkan pengalaman nyata, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.
Selamat Menjalankan ibadah puasa dengan hati yang penuh keikhlasan ^_^

Oleh: Ai Lynn
Read More

Selasa, 20 Desember 2011

Story about love (4)



            Kujatuhkan tubuhku di atas ranjang, dan membungkam muka rapat-rapat dengan bantal. Aku gelisah, karena kebodohanku sendiri. Berulang kali melempar ponsel ke arah figura yang terpajang disisi kiri meja belajarku, kemudian mengambil dan mulai menyesalinya. Entah foto itu ataupun ponsel, keduanya sama-sama berharga buatku, juga sama-sama benda yang paling ingin aku hancurkan saat ini.
Read More

Sabtu, 10 Desember 2011

Story about love (3)


            “kenapa kau terus saja menghindariku!” bentak Vic mencengkeram erat pergelangan tanganku. Aku berusaha melepaskannya, namun sia-sia, aku tak cukup kuat untuk itu.
            “aku harus pulang” kataku datar, Vic mempererat pegangannya hingga pergelangan tanganku terasa nyeri. “ada apa sih!” balasku akhirnya.
            “aku yang harusnya bertanya itu!” jawabnya gusar. “ada apa denganmu? Kenapa kau selalu menghindar saat bertemu aku? Aku berusaha menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif, aku nekat pergi ke rumahmu, tapi kau bahkan tak mau menemuiku, kau tahu, lama-lama aku bisa muak!”
            Aku menatapnya dengan air mata yang telah antri hendak keluar dari pelupuknya, tidak bisakah dia bicara sedikit halus padaku? Tidakkah dia mengerti betapa aku terluka karena kata-katanya itu? Mengapa dia selalu menyalahkan aku tanpa berfikir tentang kesalahannya terlebih dulu? Ada banyak hal diotakku yang ingin kutanyakan padanya, namun
Read More

Senin, 05 Desember 2011

Story about love (2)



            Pagi ini langit cerah tanpa awan, namun aku merasa matahari sepertinya telah tenggelam. Kucoba langkahkan kakiku lebih jauh untuk mencapai ruang kelasku. Mataku berkunang-kunang karena semalaman tak tidur hanya karena memikirkan kejadian kemarin.
            “Lin! Kenapa matamu bengkak begitu?” Tanya Aifa setengah berteriak ketika melihatku. Aku hanya memandangnya sedih dan menggeleng pelan. Aifa yang tidak bisa menerima penjelasanku, menarik lenganku untuk mengikutinya ke ruang ganti.
            “kau kenapa?” lanjutnya tak sabar. Aku diam sejenak sebelum akhirnya mulai terisak keras. Aifa memelukku dan menepuk-nepuk pundakku pelan, menungguku bicara.
            “Vic…” jawabku sesenggukan.
            “kenapa? Dia memarahimu lagi?” vonisnya. Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil berusaha menghapus air mata dengan lengan bajuku.
            “hanya k-karena…aku membuatnya menunggu t-terlalu lama…” aku tak dapat menghentikan tangisku.
            “kenapa dengannya! Dan kenapa juga denganmu! Setelah semua yang telah dia lakukan terhadapmu, bagaimana mungkin kau masih tetap mencintainya sedalam itu?!” Aifa melepaskan pelukannya dan melipat kedua tangannya. Wajahnya memerah karena marah.
            “a-aku…”
            “apa? Kau mau membelanya lagi?” Tanya Aifa ketus. “aku bosan melihatmu selalu menangis karenanya! Kau sadar tidak sih, yang kau lakukan itu benar-benar konyol!”
            “lalu aku harus bagaimana?” balasku keras.
            “tinggalkan dia” kata Aifa tegas, aku membelalak menatapnya.
Read More

Jumat, 02 Desember 2011

Story about love (1)



            Aku menghembuskan nafas panjang, jenuh. Suasana rapat osis siang ini benar-benar panas dan membosankan. Sengaja aku mainkan serpihan kertas dan kayu di depan mejaku untuk mengurangi rasa jenuh yang berkelanjutan ini. Hatiku gelisah memikirkan seseorang yang telah menungguku hampir sejam lamanya di luar ruangan. Harusnya aku menuruti kata-katanya untuk menghindari rapat, sehingga aku bisa dengan tenang pergi bersama sekarang ini.
            Kulirik seseorang yang duduk tepat disebelahku, dia tak jauh berbeda denganku, mungkin malah lebih parah. Raut wajahnya nampak kusut dan terlihat amat sangat bosan. Seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba dia melihat ke arahku juga, lalu tersenyum simpul. Entah mengapa, hatiku berdesir ringan melihat senyuman itu.
            “kenapa?” aku terkesiap ketika dia bertanya padaku.
            “eh, tidak” jawabku kikuk. Aku sendiri tak bisa menemukan alasan mengapa aku menjadi gugup ketika bicara dengannya.
            “bosan ya?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk, mengiyakan. Aku kenal siapa laki-laki ini, dia adik kelasku, wakil sekretaris satu dalam organisasi ini. Namun aku tak dapat mengingat namanya sama sekali, atau malah tak pernah tahu sebelumnya.
            “kapan selesainya nih…” keluhku pelan. Kuletakkan kepalaku di atas meja.
            “lama ya, yang mereka omongin hanya hal-hal yang tak berguna. Buang-buang waktu” ulasnya. Aku memandangnya heran, dia terlalu jujur mengungkapkan apa yang sedang mengusik pikirannya tanpa memikirkan resiko dari pernyataannya itu.
            Aku mengangguk setuju, bagaimanapun yang dikatakannya benar. Rapat kali ini hanya membahas hal-hal yang tidak jelas kesimpulannya. Aku kembali melirik arlojiku, ini sudah yang keratus kali aku mengamatinya, berharap waktu akan berhenti dan memberikanku ruang untuk bisa bersama Vic.
            Tak lama salah satu pengurus osis memberitahuku, bahwa
Read More

Jumat, 25 November 2011

Never End (part 1)



Rena POV

            “Kak Rega!!” teriakku keras, sambil berlari ke arah garasi. Kak Rega memandang ke arahku dan tersenyum. Satu tangannya memegangi helm yang hendak dia kenakan. Setelah aku sampai dimulut garasi, kak Rega meletakkan helm di atas jok motornya dan menghampiriku.
            “Ada apa Rena?” Tanyanya lembut seraya mengacak-acak rambutku, gemas.
            “Kak Rega mau kemana di tengah hujan begini?” jawabku curiga. Meski tersenyum, raut wajah kak Rega tetap tak bisa menyembunyikan kepedihan yang dirasakannya. Aku tak sengaja melihat kak Rega meneteskan air mata sebelum memutuskan untuk mengambil motornya di garasi. Entah apa yang terjadi, aku merasa ada sesuatu yang berusaha disembunyikan kak Rega dari semua orang.
            “kakak ada urusan sebentar. Kamu jaga ayah di rumah ya, ingat jangan lupa memberinya obat pukul  09.00 p.m nanti” kata kak Rega tegas. Matanya menatap tajam mataku, berharap aku akan melakukan apa yang diperintahkannya.
            “tidak kak, kak Rega tak boleh pergi. Setidaknya tunggu sampai hujannya reda…” ucapku, memohon. Namun kak Rega hanya menghembuskan nafas panjang, menunjukkan ketidaksabarannya.
            “dengar Rena, kakak harus pergi sekarang juga. Harus. Jika tidak, mungkin kakak tidak akan pernah bisa melihat…”
            “melihat Lui lagi?!” potongku cepat. “selalu saja dia…” gerutuku kesal. Kak Rega memegang bahuku sekali lagi, sedikit membungkuk untuk mengimbangi tinggiku.
            “dia segalanya bagi kakak. Kakak mohon kau bisa mengerti itu”
            “tapi tidak bisakah kak Rega tunggu sampai-”
            “Tidak!” sahut kak Rega. Aku sedikit terkejut mendengar suaranya, dan mundur selangkah menjauhinya. Kak Rega melepaskan tangannya dari bahuku dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “kakak harus pergi, jaga ayah baik-baik. Sampai nanti…” ucap kak Rega akhirnya, seraya menyambar helm di atas jok motor dan membawa motornya melaju memecah angin di tengah hujan deras.
Read More

Sabtu, 17 September 2011

Symphoni Hening (6)


                       “Reihan! Kenapa hidungmu berdarah?!” aku mendekap mulut dengan kedua tangan ketika melihat aliran sungai kecil merah pekat mengalir dari salah satu lubang hidungnya. Reihan menyentuh hidungnya dan melihat darah yang kini telah menodai tangannya.
                       “em, tak apa. sebaiknya kau pulang sekarang” kata Reihan, seraya berdiri dan menarik lenganku dengan tangannya yang bersih, memaksaku keluar kamarnya.
                       “tidak, lepaskan aku!” erangku, berusaha melepas genggaman tangan Reihan, tapi aku tak cukup kuat untuk itu.
                       “tolong, pergilah sekarang…” wajah Reihan pucat pasi, darah dari hidungnya menetes ke lantai. Semakin lama, darah itu menetes semakin banyak.
                       “kau kenapa? Apa yang terjadi? Tolong, biarkan aku disini bersa-“
                       “Cepat pergi dari sini! Aku bisa mengatasi ini, pergilah, cepat!”
                       “TIDAK!” teriakku. “APA KAU INGIN MEMBUATKU MATI KARENA MELIHATMU TERSIKSA?!” teriakanku membuat beberapa perawat yang tengah melintasi ruangan ini terlihat panik dan menghampiri kami.
                       “PERGI!” Reihan membalas teriakanku, dan mendorongku kasar. Aku tersungkur di lantai tepat di depan pintu kamar Reihan. Namun sebelum Reihan sempat menutup pintu kamarnya, tubuhnya limbung, dan bisa kudengar suara berdebum ketika tubuhnya jatuh menyentuh lantai.
________________
                       “apa anda keluarganya?” Tanya Seorang Dokter yang beru saja keluar dari ruang ICU. Aku berlari mendekatinya.
                       “iya. Bagaimana keadaannya dok? Apa dia akan baik-baik saja? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku panik. Dokter itu menatap tajam mataku dengan sorot simpatik.
                       “dia mengalami pendarahan di otaknya, dan harus segera di operasi. Kami harus meminta izin pada keluarganya untuk itu. Bagaimana?”
                       “APA? Ya Tuhan, aku… aku…” Jantungku berdebar keras sekali, aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.
                       “cepat, dia harus segera di tangani” desak Dokter itu.
                       “apa jika di oprasi dia akan sembuh?” seluruh tubuhku basah oleh keringat. Ya Allah… lakukan sesuatu…
                       “kumungkinannya adalah 40%, kami tidak bisa menjamin. Penyakit yang ia derita sudah terlalu parah, tapi jika tidak segera di operasi, nyawanya tidak akan tertolong lagi” lirih Dokter itu.
                       “Jika masih ada harapan untuknya hidup, lakukan apa yang sebaiknya anda lakukan . Saya mohon… tolong selamatkan dia…”
                       “baiklah, kami akan melakukan operasi. Kami mohon anda untuk bersabar apapun hasilnya nanti, karena yang menentukannya untuk tetap hidup sekarang bukanlah kami, melainkan Tuhan” Dokter itu berusaha menguatkan aku dengan menepuk pundakku sebelum pergi. Aku terduduk lemas di lantai, ketika ia menutup pintu ruangan di depanku.
________________

Read More

Symphoni Hening (5)


                       Sudah sebulan sejak aku tahu keadaan Reihan, selama itu, tidak sedetikpun aku mampu mengalihkan pikiranku darinya. Segala hal bercampur aduk dalam otakku, membuatku tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Keadaan ibu yang sakit-sakitan semakin memperburuk suasana hatiku. Namun aku tak sanggup menangis, setidaknya, tidak di depan ibu dan Reihan. Jika memang ini yang terbaik untuk menjaga perasaan mereka, kurasa aku akan sanggup berpura-pura tersenyum bahagia dan menganggap segalanya akan baik-baik saja.
                       “ibu, bisakah ibu menceritakan padaku apa yang dilakukan Reihan dalam mimpi ibu?” Tanyaku pada ibu ketika jam makam malam tiba. Ibu mengangguk sambil menyendok makanannya.
                       “seingat ibu, ibu melihat Reihan mengunjungi taman bunga ibu, lalu memeluk ibu. Awalnya ibu takut padanya, karena sikapnya yang aneh itu. Namun ketika Reihan memeluk ibu, ibu merasakan ketenangan dalam jiwa, semua masalah ibu seakan terangkat dari kepala. Kemudian dia tersenyum pada ibu dan berkata ‘terimakasih atas segalanya’, lalu mencium punggung tangan ibu dan pergi” jelas ibu panjang lebar.
                       Jantungku berpacu cepat, aku tak ingin mengetahui apa arti dari mimpi itu. Mengapa Reihan mengatakan itu pada ibu? Namun ketika mendengarnya, seakan-akan aku sedang memutar rekaman yang telah lama tak pernah kudengarkan. Bayangan wajah Reihan yang teduh memenuhi seluruh otakku. Aku tak menyadari tanganku yang gemetar hebat sampai mendengar suara dentingan sendok yang jatuh dari genggamanku.
                       “kau kenapa sayang?” selidik ibu panik. Aku tersadar dan segera menghapus air mata dengan ujung jilbabku.
                       “tak apa-apa bu, aku hanya teringat sesuatu” jawabku pelan, aku mencoba menyuapkan sesendok nasi dari piringku, namun lidahku tak mampu merasakan apapun.
                       “ceritakan pada ibu, apa yang membuatmu begitu gelisah?”
                       “emm…ibu… salahkah jika kita mencintai seseorang yang sudah pasti tidak akan bisa bersama kita?” tanyaku lirih. Ibu tersenyum.
                       “mengapa dia tidak akan bisa bersama kita?”
                       “karena…dia akan meninggalkan kita selamanya…” bisikku, bibirku bergetar ketika mengatakan itu.
                       “bukankah setiap orang pasti akan meninggal cepat atau lambat? Kenapa kau begitu merisaukannya? Tentu saja kita berhak mencintai siapapun, meski…” ibu tak melanjutkan kata-katanya. Aku tahu pasti apa yang tiba-tiba terlintas dipikirannya.
                       “sudah jangan dibahas lagi deh bu. Kita habiskan saja makan malam ini, kelihatannya enak sekali!” aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan berhasil. Kusuapkan sekali lagi sendok ke dalam mulutku, namun sama saja, aku tak bisa merasakan makanan ini sama sekali.
                       Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang membuatku terperanjat,
Read More

Senin, 29 Agustus 2011

Aneh?

Aku tengah berada di taman kota, ketika gadis itu melihatku dan tertawa riang sambil bertepuk tangan. Tubuhnya yang mungil melompat-lompat kecil dan berlari ke arahku. Aku terdiam di tempatku berdiri, mengamati gerak geriknya yang kini sudah semakin dekat denganku. Tingginya hanya beberapa centi meter di atas lututku. Masing-masing tangan kecilnya menggenggam satu permen. Gadis kecil itu menyerahkan salah satu permen padaku. Namun aku tak bergerak, sambil terus menatapnya tajam. Ia tak menyerah dan berusaha menggapai-gapai tanganku agar mau menerima permen darinya. Aku tetap bergeming ketika ia mulai merengek atas tindakanku yang tak bisa dibedakan dengan patung.
                Gadis kecil itu memeluk lututku dengan kedua tangan yang masih menggenggam permen, dan menengadah memandangku. Mungkin sedang berusaha mengamati raut wajahku. Ia tersenyum lagi, dan kali ini senyumannya membuatku sadar. Aku melepas tangan-tangan mungil yang merangkulku erat-erat itu. Dengan segera mundur beberapa langkah menjauhinya, berbalik lalu pergi. Gadis kecil itu mencoba berlari mengejarku saat aku semakin menjauh darinya. Berteriak-teriak dengan seruan “jangan pergi” padaku, namun aku terus melangkah tak menghiraukannya.
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (3)

                Kulangkahkan kakiku menuju pemakaman. Sudah lama aku tak mengunjunginya, sudah lebih dari setengah tahun lalu. Pemakaman ini terlihat begitu damai, aku mampu merasakan ketenangan disini. Aroma bunga kamboja berebut masuk menyentuh hidungku, wangi sekali. Tak pernah kurasakan mekarnya sewangi ini sebelumnya. Matahari di ufuk Barat masih memancarkan sinarnya yang kini telah menjadi merah tembaga. Aku berhenti tepat di depan makamnya. Apa tak ada satupun orang yang mengunjunginya sebelum aku? Makam ini tampak sangat kotor dan tak terawat. Nisannya nyaris tertutup lumut dan banyak daun-daun kering menyelimuti tanahnya.

                Kuletakkan rangkaian bunga kriysan yang sejak tadi kugenggam erat, disamping makam beserta tas yang kugantungkan dipundak kiriku. Kucabuti satu persatu rumput yang tumbuh subur di atasnya dan menyingkirkan daun-daun kering.
                “Assalamu’alaikum… Maaf ya re, baru sekarang aku bisa mengunjungimu. Bagaimana kabarmu?” ucapku. “baik kan? Nah…sekarang sudah bersih. Apa kau merasa nyaman?” Kuambil sebotol air mineral dalam tasku dan menuangkannya di atas makam yang kini telah bersih.
                “hey, lihat apa yang kubawakan untukmu. Taadaa…! Bunga kriysan kesukaanmu. Kau pasti senang…” kuletakkan rangkaian bunga itu tepat di depan nisan. “ah aku lupa membersihkan nisannya… Huft, kenapa lumut-lumut ini tumbuh dan menyebar begitu cepat yah…” keluhku muram. Kuambil tisu dalam tasku lagi dan mengusapnya pada nisan hingga tulisan dalam nisan itu terlihat jelas.
                “emm… Re… Apa kau pernah patah hati? Maaf yah, aku tak sempat menanyakannya padamu…” kini nisan itu telah benar-benar bersih. “haha… bahkan aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padamu…” aku merasakan air mata mengambang dipelupuk mataku.
                “aku mencintai seseorang… tapi sekarang dia juga telah pergi…” lirihku. “tahukah kau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai?” aku duduk disamping makam itu dengan menekuk kedua lututku kedada.
                “tidak, tidak… Kali ini aku yang membuat keputusan itu. Aku yang meninggalkannya, dia, orang yang kumaksud tadi…” kupandangi makamnya, lama sekali. “dia…ternyata telah mencintai orang lain. Tahukah kau bagaimana rasanya? Rasanya lebih sakit dari pada paku yang tak sengaja bersamaan kita injak didepan rumahmu, ingat?” aku tersenyum mengingat kembali kenangan itu.
                “waktu itu aku pikir aku akan mati kehabisan darah. Hahaha…” tawaku. Kini memandang ke arah matahari. “apa tadi aku sudah menyebut namanya? Emm, aku biasa memanggilnya Pangeran Senja. Kau tau, dia juga pernah memanggilku Putri Bintang. Sama seperti sebutanmu padaku dulu”
                “tapi dia berbeda denganmu, tentu saja. Kau selalu menghinaku jika aku berkata yang indah-indah tentang langit, tapi dia tidak. Kau sering mentertawakan aku kalau aku berangan-angan tentang bintang, tapi dia tak akan pernah melakukan itu. Hanya saja…dia… Yah, kalian memang berbeda…” entah mengapa air mataku menetes lagi tanpa sebab.
Read More

Symphoni Hening (3)

“kenapa? Bukankah itu hal yang bagus?” aku mengerutkan keningku. Namun dia hanya mengangkat bahunya dan kembali tersenyum.
                “sudahlah… Hey, ini sudah larut malam, lebih baik kau pulang”
                “dan meninggalkan ibu sendiri disini? Tidak akan.” Jawabku jelas. “aku akan tidur di…”
                “kau perlu menyiapkan segala sesuatunya, juga kebutuhan ibumu. Pulanglah, biar aku yang menjaganya” aku memandang mata Reihan, ada ketulusan dalam raut wajahnya. Sebelumnya aku tak bisa mempercayai laki-laki, apalagi setelah tahu apa yang telah dilakukan ayah terhadap ibu. Namun entah mengapa aku menaruh kepercayaan kecil padanya, pada Reihan. “pulanglah… lihat rambutmu, kau bahkan lebih parah dari pasien-pasien disini” Raihan tertawa. Aku tersadar, rambutku! Aku tak memakai jilbab sewaktu kesini. Reflek aku menutupi kepalaku dengan kedua tangan.
                “ah…aku lupa…” lirihku. Aku benar-benar malu, bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan seperti ini?
                “pakai ini” Reihan mengulurkan selembar kain padaku. Dia mengerti apa yang tengah aku pikirkan. Tanpa bertanya lagi aku mengambil kain itu dan membentuknya sedemikian rupa hingga menutupi rambutku dengan aman. Setelah itu Reihan berdiri dan mencari sesuatu dari bawah ranjangnya dan mengeluarkan jaket, sandal, juga beberapa lembar uang dari saku piamanya. “ambil ini, dan ini (menyerahkan uang padaku) kau tak perlu berlari lagi kembali ke rumah. Oke?” cengirnya.
                “kau… mengapa…”
                “jangan bertanya lagi dan cepatlah pulang. Kau berani pulang sendiri kan?” Reihan memotong kalimatku.
                “tentu saja. Baiklah, aku pulang… Terimakasih Reihan, aku akan kembali sebelum matahari terbit” aku membalas senyumannya, dan melangkah keluar kamar. Aku percaya padanya…

                Esoknya,
                “bangun” aku mendengar suara Reihan, dan mengerjapkan mata beberapa kali. Kuamati ruangan disekitarku, dan juga ibu yang sedang ternyenyak dihadapanku.
                “jam berapa sekarang?” tanyaku sambil menguap. “ah, apakah ibu belum sadar juga?”
                “setengah lima pagi. Belum, tapi sepertinya ibumu sudah lebih baik” Reihan memakai peci dan sarung. Aku mengamatinya sejenak, raut wajahnya nampak sangat lembut. “kau belum sholat kan? Diujung koridor sana ada mushola” ucapnya ringan.
Read More

Ilusi

   Malam ini, hamparan bintang di angkasa membirai pandanganku. Seindah matahari saat turun keperaduannya. Aku membaringkan tubuhku di atas rerumputan di samping rumahku. Angin malam menyapaku lembut lewat semilirnya. Kuarahkan mataku pada benda paling terang di antara beribu bintang. Setidaknya itulah yang kulihat dalam pandanganku…
                “hai bulan… malam ini aku mmerindukanmu…” sapaku pelan. Aku tersenyum pada bulan, berharap dia bisa membalas sapaanku, meski hanya sekedar tersenyum.
                “hai juga…”
                Aku terlonjak mendengar suara barusan, berusaha mencari tahu dimana sumber suara itu berasal. Namun nihil, aku tak menemukan siapapun disekitarku selain rumput-rumput yang bergoyang ditiup angin dan siluet lampu kamarku yang masih menyala.
                “siapa kau?” tanyaku ragu.
                “aku bulan” lagi-lagi suara itu membalas. Aku melirik bulan yang bersinar semakin terang di atas kepalaku. Mungkinkah?
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (2)

“kenapa kau menangis sayang?” aku menengadah mencari sumber suara itu. Bayangan anggun di depan mataku nyaris membuatku tak mengenali sosok ibu.
                “ibu…” aku memeluk pinggang ibu erat-erat, hingga air mataku jatuh membasahi busananya. Ibu membalas pelukanku.
                “ceritakan pada ibu nak, siapa yang tega membuatmu sesedih ini?” ibu membelai lembut rambutku yang tergerai panjang, dan menunggu jawabanku dengan sabar.
                “tidak ibu, akulah yang telah membuatnya sedih…” isakku. “dia… Pangeran Senja… aku membuatnya terluka…” aku terisak semakin keras dalam dekapan ibu.
                “kenapa kau lakukan itu Bintangku…?” Tanya ibu, sambil melepaskan pelukanku perlahan dan menghapus air mataku dengan ujung lengannya.
                “aku tak mengerti apa yang aku lakukan ini benar atau tidak… Tapi aku…aku tak bisa memenuhi janjiku untuk selalu bersamanya, ibu…” suaraku terdengar sangat aneh di telingaku. “aku mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kuungkapkan. Aku hanya tak ingin…dia melihatku yang seperti  ini lagi…”
                “putriku… lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Dan jangan pernah menyesali keputusan yang telah kau pilih sendiri. Kehidupan manusia itu bagaikan roda yang berputar, kadang sedih dan kadang bahagia. Tak selamanya kau akan merasakan kebahagiaan…”
                “ibu, pernahkah aku merasa bahagia sejak ibu meninggalkanku?”
                “sayang…” lirih ibu sedih.
                “pernahkah terlintas dipikiran ibu kalau aku akan baik-baik saja tanpa ibu? Aku rapuh bu… hatiku bagai kertas putih yang telah hangus termakan api, jika angin meniupnya, maka habislah sudah… hatiku akan terbang kemana angin akan membawanya… Aku tak pernah bahagia sejak ayah, ibu, pergi satu persatu dalam kehidupanku… Tidakkah ibu mengerti akan hal itu…?”
Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena