✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Semangkuk Cinta #2


Rogojampi, 2004 |

            “Assalamu’alaikuuuum…” teriakku ketika masuk kelas dengan menenteng sekeresek besar bungkusan-bungkusan susu kedelai di tangan kananku.
“Wa’alaikum salam!” Sontak sebagian penghuni kelas mengerumuniku. Dengan santainya aku meletakkan keresek itu di atas bangkuku dan membiarkan teman-teman mengambil pesanan mereka. Satu persatu mereka menyodorkan uang receh lima ratus rupiah ke arahku yang langsung aku masukkan ke dalam saku. Tak beberapa lama bel masuk berbunyi.
            “sayang nggak bisa diminum sekarang, sudah masuk” bisik Dian, teman sebangkuku. Aku senang melihat wajah kecewanya ketika memasukkan bungkusan susu kedelai ke laci bawah bangku.
            “sst…kita minum diam-diam saja selagi pak guru menjelaskan!” balasku berbisik. Kami berdua terkikik bersamaan, namun memutuskan untuk meletakkannya kembali dalam laci.

            “ini bu, lima ribu” aku memberikan uang receh kepada ibu.
            “lho? Kan tadi ibu bawakan dua belas bungkus?”
            “yang dua aku minum sendiri” jawabku tanpa dosa.
            “kan Lin sudah bawa satu untuk diminum? Jadi totalnya tiga belas bungkus”
            “ah…berarti aku minum tiga bu! Hehehe”
            Ibu hanya tertawa menggelengkan kepalanya seraya meletakkan uang receh itu ke dalam gelas plastik di atas kulkas. Aku meminta gelas itu, menumpahkan isinya ke lantai dan mulai menghitung hasil yang kami peroleh hari ini. Semakin bertambah dari hari pertama kami menjualnya.
            Ibu juga menambah bahan kedelai lebih banyak dan hampir tiap malam aku menemani ibu membungkus susu kedelai, terkadang aku dan adik mengerjakan PR disamping ibu yang tengah serius membungkus atau membantunya mengaduk-aduk susu kedelai dalam panci di atas kompor. Ibu memberikan perasa buah-buahan pada susu kedelai yang sudah akan dibungkusnya. Aku dan adik mendapat kesempatan memilihkan rasa-rasa itu dan selalu berharap ada sisa di baskom yang terlalu sedikit untuk ikut dibungkus.
Ibu… Ibu yang tak pernah berhenti tersenyum meski harus semalaman mengerjakan itu setelah seharian membereskan pekerjaan rumah dan memasakkan makanan untuk kami bertiga setiap hari…

|| Rogojampi, 1999 ||

            “lho? Kok ibu ikut mengantar juga?” lirihan pelan yang kutujukan pada ayah rupanya terdengar juga oleh ibu.
            “ibu kan juga ingin melambaikan tangan ketika Lin masuk ke dalam sekolah” bisik ibu di dekat telingaku. Aku hanya menunduk.
            Sehari sebelumnya Shinta pernah berkata padaku dan teman-teman yang lain. Bahwa anak yang diantar sekolah oleh ibunya itu adalah anak manja dan dia tidak mau berteman dengan anak manja. Ada diantara teman-temanku yang ikut mendengarkan menangis seketika karena ibunya tak hanya mengantar, tapi bahkan menunggunya hingga sekolah usai. Bagaimana jika Shinta tak mau berteman denganku lagi?
            “sudah yaah….sampai sini saja!”
            “kenapa?” meski keheranan ayah tetap menghentikan motor di depan masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari sekolahku, Aisyah Bustanul Atfal. Seketika aku bergegas turun dari motor. Ibu yang duduk di belakang ayah sambil menggendong adik, menghentikan langkahku.
            “kenapa to nduk?”
            Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin sekali menangis. Namun aku berhasil mencegahnya dengan berteriak kepada ibu.
            “Lin malu kalau ibu ikut mengantar!” aku berlari ke arah gerbang sekolah tanpa berpamitan dan tanpa melihat ke belakang lagi. Langkah kakiku yang pendek membuat gerbang terasa sangat jauh. Aku tahu ibu masih memandangiku di depan masjid dengan pandangan sedih.
            Sejak awal ibu memang tak pernah mengantarku apalagi menungguiku di sekolah. Hanya pada saat pertama kali aku masuk sekolah, karena ibu harus merawat adik yang masih berumur kurang dari dua tahun. Kakiku berhenti berlari. Kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajahku dan menangis. Aku ingin melihat ke belakang sekali lagi. Apa ibu masih berdiri disana? Apa ibu juga menangis sama sepertiku? Apa ibu masih ingin melambaikan tangan padaku seingin aku melambaikan tangan padanya? Tapi aku tak pernah tahu.
Read More

Selasa, 04 November 2014

Semangkuk Cinta #1


“ibu bikin apa?”
“bikin susu sari kedelai, nanti kita jual nduk, buat tambah-tambah uang jajanmu”
“asyiik…., tapi bu, aku lebih suka bawa ini untuk saku di sekolah, jadi ndak perlu uang jajan”
“iya, tapi tetap harus dijual, buat makan kita juga to nduk” ibu tersenyum mengusap rambutku.
“o….” dengan polosnya aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-kata ibu.
            Malam itu aku menghabiskan waktu menemani ibu membungkus satu persatu sari kedelai dari baskom besar ke plastik-plastik kecil. Aku tak membantu, hanya bercerita banyak-banyak tentang apa yang terjadi hari ini dari berangkat sekolah hingga pulang. Sesekali ibu tertawa mendengarnya, membuatku semakin semangat untuk bercerita hingga bungkusan terakhir diletakkan ibu ke dalam keranjang plastik. Sembari membangunkan ayah yang terlelap di depan tv untuk menggendong adik ke tempat tidurnya, ibu memintaku untuk menata bungkusan-bungkusan susu ke dalam kulkas.
            “ibu, apakah kita akan menjualnya berkeliling kampung?”
            “tidak sayang, kita akan menjualnya disini, biar orang-orang yang datang kemari untuk membeli. Nanti kita tempel tulisan ‘jual susu kedelai’ di depan pintu rumah ya?”
            “iyaa” jawabku bersemangat.

            “ibuuuu….. aku pulaaaang” aku menyembur masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan betapa sepatu yang masih kukenakan mengotori lantai rumah dari ruang tamu hingga dapur.
            “wa’alaikum salaam…” jawab ibu yang tengah mencuci piring di westafel. Aku tersipu.
            “as…salamu’alaikuum… hehehe. Lupa” dalihku, seraya mencium tangan kanan ibu yang basah. Langsung saja aku tanggalkan seragam sekolahku, bertumpukan dengan sepatu dan tas warna coklat kesayanganku, lalu berlari ke kamar mandi mengabaikan teriakan lembut ibu yang menyuruhku menaruh semua barang-barang itu pada tempatnya.
            “bu…bu, tadi teman-teman banyak yang minta susu yang aku bawa. Dian, Sofia, Intan, Indah, banyak bu. Kata mereka besok aku harus membawa lagi” jelasku ketika keluar dari kamar mandi. Ibu hanya tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan barang-barangku. Dan sekali lagi aku mengabaikannya.
            “lalu aku bilang, ibuku jualan susu kedelai di rumah. Kalo mau ya beli! Hahaha” entah kenapa pada saat itu aku sudah bisa berfikir tentang bisnis.
            “lalu?”
            “besok aku bantuin jual ke sekolah ya bu? Pasti laku! Banyak yang suka kok bu…”
            “kamu ndak malu jualan di sekolah?”
            “ndak bu!”
Aku hampir melompat kegirangan ketika ibu mengangguk dengan senyuman. Aku memeluk perutnya dan berlari keluar dapur, takut kalau tiba-tiba ibu sadar aku belum membereskan barang-barangku. Mana bisa, tak ada waktu! Aku ada janji dengan Dian akan main di rumahnya sepulang sekolah. Namun yang kudengar teriakan ibu dari dapur adalah:
“jangan lupa pakai baju!”
 
===========================



Read More

Jumat, 30 Maret 2012

Puisi


Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu

Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu


Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi

Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

By: Jikustik
Read More

Jumat, 23 Maret 2012

How Can I Not Love You


Cannot touch
Cannot hold
Cannot be together

Cannot love
Cannot kiss
Cannot have each other

Must be strong
and we must let go
Cannot say
What our heart must know

How can I not love you
What do I tell my heart
When do I not want you

Here my arms
How does one walks away
from all the memories
How do I not miss you
When you are gone...

Cannot dream
Cannot share
Sweet and tender moments

Cannot feel
How we feel, must pretend it's over

Must be brave
and we must go on
Must not say
What we've known all along

How can I not love you
When you are gone...
Read More

Selasa, 20 Desember 2011

Story about love (4)



            Kujatuhkan tubuhku di atas ranjang, dan membungkam muka rapat-rapat dengan bantal. Aku gelisah, karena kebodohanku sendiri. Berulang kali melempar ponsel ke arah figura yang terpajang disisi kiri meja belajarku, kemudian mengambil dan mulai menyesalinya. Entah foto itu ataupun ponsel, keduanya sama-sama berharga buatku, juga sama-sama benda yang paling ingin aku hancurkan saat ini.
Read More

Sabtu, 10 Desember 2011

Story about love (3)


            “kenapa kau terus saja menghindariku!” bentak Vic mencengkeram erat pergelangan tanganku. Aku berusaha melepaskannya, namun sia-sia, aku tak cukup kuat untuk itu.
            “aku harus pulang” kataku datar, Vic mempererat pegangannya hingga pergelangan tanganku terasa nyeri. “ada apa sih!” balasku akhirnya.
            “aku yang harusnya bertanya itu!” jawabnya gusar. “ada apa denganmu? Kenapa kau selalu menghindar saat bertemu aku? Aku berusaha menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif, aku nekat pergi ke rumahmu, tapi kau bahkan tak mau menemuiku, kau tahu, lama-lama aku bisa muak!”
            Aku menatapnya dengan air mata yang telah antri hendak keluar dari pelupuknya, tidak bisakah dia bicara sedikit halus padaku? Tidakkah dia mengerti betapa aku terluka karena kata-katanya itu? Mengapa dia selalu menyalahkan aku tanpa berfikir tentang kesalahannya terlebih dulu? Ada banyak hal diotakku yang ingin kutanyakan padanya, namun
Read More

Senin, 05 Desember 2011

Story about love (2)



            Pagi ini langit cerah tanpa awan, namun aku merasa matahari sepertinya telah tenggelam. Kucoba langkahkan kakiku lebih jauh untuk mencapai ruang kelasku. Mataku berkunang-kunang karena semalaman tak tidur hanya karena memikirkan kejadian kemarin.
            “Lin! Kenapa matamu bengkak begitu?” Tanya Aifa setengah berteriak ketika melihatku. Aku hanya memandangnya sedih dan menggeleng pelan. Aifa yang tidak bisa menerima penjelasanku, menarik lenganku untuk mengikutinya ke ruang ganti.
            “kau kenapa?” lanjutnya tak sabar. Aku diam sejenak sebelum akhirnya mulai terisak keras. Aifa memelukku dan menepuk-nepuk pundakku pelan, menungguku bicara.
            “Vic…” jawabku sesenggukan.
            “kenapa? Dia memarahimu lagi?” vonisnya. Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil berusaha menghapus air mata dengan lengan bajuku.
            “hanya k-karena…aku membuatnya menunggu t-terlalu lama…” aku tak dapat menghentikan tangisku.
            “kenapa dengannya! Dan kenapa juga denganmu! Setelah semua yang telah dia lakukan terhadapmu, bagaimana mungkin kau masih tetap mencintainya sedalam itu?!” Aifa melepaskan pelukannya dan melipat kedua tangannya. Wajahnya memerah karena marah.
            “a-aku…”
            “apa? Kau mau membelanya lagi?” Tanya Aifa ketus. “aku bosan melihatmu selalu menangis karenanya! Kau sadar tidak sih, yang kau lakukan itu benar-benar konyol!”
            “lalu aku harus bagaimana?” balasku keras.
            “tinggalkan dia” kata Aifa tegas, aku membelalak menatapnya.
Read More

Jumat, 02 Desember 2011

Story about love (1)



            Aku menghembuskan nafas panjang, jenuh. Suasana rapat osis siang ini benar-benar panas dan membosankan. Sengaja aku mainkan serpihan kertas dan kayu di depan mejaku untuk mengurangi rasa jenuh yang berkelanjutan ini. Hatiku gelisah memikirkan seseorang yang telah menungguku hampir sejam lamanya di luar ruangan. Harusnya aku menuruti kata-katanya untuk menghindari rapat, sehingga aku bisa dengan tenang pergi bersama sekarang ini.
            Kulirik seseorang yang duduk tepat disebelahku, dia tak jauh berbeda denganku, mungkin malah lebih parah. Raut wajahnya nampak kusut dan terlihat amat sangat bosan. Seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba dia melihat ke arahku juga, lalu tersenyum simpul. Entah mengapa, hatiku berdesir ringan melihat senyuman itu.
            “kenapa?” aku terkesiap ketika dia bertanya padaku.
            “eh, tidak” jawabku kikuk. Aku sendiri tak bisa menemukan alasan mengapa aku menjadi gugup ketika bicara dengannya.
            “bosan ya?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk, mengiyakan. Aku kenal siapa laki-laki ini, dia adik kelasku, wakil sekretaris satu dalam organisasi ini. Namun aku tak dapat mengingat namanya sama sekali, atau malah tak pernah tahu sebelumnya.
            “kapan selesainya nih…” keluhku pelan. Kuletakkan kepalaku di atas meja.
            “lama ya, yang mereka omongin hanya hal-hal yang tak berguna. Buang-buang waktu” ulasnya. Aku memandangnya heran, dia terlalu jujur mengungkapkan apa yang sedang mengusik pikirannya tanpa memikirkan resiko dari pernyataannya itu.
            Aku mengangguk setuju, bagaimanapun yang dikatakannya benar. Rapat kali ini hanya membahas hal-hal yang tidak jelas kesimpulannya. Aku kembali melirik arlojiku, ini sudah yang keratus kali aku mengamatinya, berharap waktu akan berhenti dan memberikanku ruang untuk bisa bersama Vic.
            Tak lama salah satu pengurus osis memberitahuku, bahwa
Read More

Jumat, 25 November 2011

Never End (part 1)



Rena POV

            “Kak Rega!!” teriakku keras, sambil berlari ke arah garasi. Kak Rega memandang ke arahku dan tersenyum. Satu tangannya memegangi helm yang hendak dia kenakan. Setelah aku sampai dimulut garasi, kak Rega meletakkan helm di atas jok motornya dan menghampiriku.
            “Ada apa Rena?” Tanyanya lembut seraya mengacak-acak rambutku, gemas.
            “Kak Rega mau kemana di tengah hujan begini?” jawabku curiga. Meski tersenyum, raut wajah kak Rega tetap tak bisa menyembunyikan kepedihan yang dirasakannya. Aku tak sengaja melihat kak Rega meneteskan air mata sebelum memutuskan untuk mengambil motornya di garasi. Entah apa yang terjadi, aku merasa ada sesuatu yang berusaha disembunyikan kak Rega dari semua orang.
            “kakak ada urusan sebentar. Kamu jaga ayah di rumah ya, ingat jangan lupa memberinya obat pukul  09.00 p.m nanti” kata kak Rega tegas. Matanya menatap tajam mataku, berharap aku akan melakukan apa yang diperintahkannya.
            “tidak kak, kak Rega tak boleh pergi. Setidaknya tunggu sampai hujannya reda…” ucapku, memohon. Namun kak Rega hanya menghembuskan nafas panjang, menunjukkan ketidaksabarannya.
            “dengar Rena, kakak harus pergi sekarang juga. Harus. Jika tidak, mungkin kakak tidak akan pernah bisa melihat…”
            “melihat Lui lagi?!” potongku cepat. “selalu saja dia…” gerutuku kesal. Kak Rega memegang bahuku sekali lagi, sedikit membungkuk untuk mengimbangi tinggiku.
            “dia segalanya bagi kakak. Kakak mohon kau bisa mengerti itu”
            “tapi tidak bisakah kak Rega tunggu sampai-”
            “Tidak!” sahut kak Rega. Aku sedikit terkejut mendengar suaranya, dan mundur selangkah menjauhinya. Kak Rega melepaskan tangannya dari bahuku dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “kakak harus pergi, jaga ayah baik-baik. Sampai nanti…” ucap kak Rega akhirnya, seraya menyambar helm di atas jok motor dan membawa motornya melaju memecah angin di tengah hujan deras.
Read More

Sabtu, 17 September 2011

Symphoni Hening (6)


                       “Reihan! Kenapa hidungmu berdarah?!” aku mendekap mulut dengan kedua tangan ketika melihat aliran sungai kecil merah pekat mengalir dari salah satu lubang hidungnya. Reihan menyentuh hidungnya dan melihat darah yang kini telah menodai tangannya.
                       “em, tak apa. sebaiknya kau pulang sekarang” kata Reihan, seraya berdiri dan menarik lenganku dengan tangannya yang bersih, memaksaku keluar kamarnya.
                       “tidak, lepaskan aku!” erangku, berusaha melepas genggaman tangan Reihan, tapi aku tak cukup kuat untuk itu.
                       “tolong, pergilah sekarang…” wajah Reihan pucat pasi, darah dari hidungnya menetes ke lantai. Semakin lama, darah itu menetes semakin banyak.
                       “kau kenapa? Apa yang terjadi? Tolong, biarkan aku disini bersa-“
                       “Cepat pergi dari sini! Aku bisa mengatasi ini, pergilah, cepat!”
                       “TIDAK!” teriakku. “APA KAU INGIN MEMBUATKU MATI KARENA MELIHATMU TERSIKSA?!” teriakanku membuat beberapa perawat yang tengah melintasi ruangan ini terlihat panik dan menghampiri kami.
                       “PERGI!” Reihan membalas teriakanku, dan mendorongku kasar. Aku tersungkur di lantai tepat di depan pintu kamar Reihan. Namun sebelum Reihan sempat menutup pintu kamarnya, tubuhnya limbung, dan bisa kudengar suara berdebum ketika tubuhnya jatuh menyentuh lantai.
________________
                       “apa anda keluarganya?” Tanya Seorang Dokter yang beru saja keluar dari ruang ICU. Aku berlari mendekatinya.
                       “iya. Bagaimana keadaannya dok? Apa dia akan baik-baik saja? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku panik. Dokter itu menatap tajam mataku dengan sorot simpatik.
                       “dia mengalami pendarahan di otaknya, dan harus segera di operasi. Kami harus meminta izin pada keluarganya untuk itu. Bagaimana?”
                       “APA? Ya Tuhan, aku… aku…” Jantungku berdebar keras sekali, aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.
                       “cepat, dia harus segera di tangani” desak Dokter itu.
                       “apa jika di oprasi dia akan sembuh?” seluruh tubuhku basah oleh keringat. Ya Allah… lakukan sesuatu…
                       “kumungkinannya adalah 40%, kami tidak bisa menjamin. Penyakit yang ia derita sudah terlalu parah, tapi jika tidak segera di operasi, nyawanya tidak akan tertolong lagi” lirih Dokter itu.
                       “Jika masih ada harapan untuknya hidup, lakukan apa yang sebaiknya anda lakukan . Saya mohon… tolong selamatkan dia…”
                       “baiklah, kami akan melakukan operasi. Kami mohon anda untuk bersabar apapun hasilnya nanti, karena yang menentukannya untuk tetap hidup sekarang bukanlah kami, melainkan Tuhan” Dokter itu berusaha menguatkan aku dengan menepuk pundakku sebelum pergi. Aku terduduk lemas di lantai, ketika ia menutup pintu ruangan di depanku.
________________

Read More

Symphoni Hening (5)


                       Sudah sebulan sejak aku tahu keadaan Reihan, selama itu, tidak sedetikpun aku mampu mengalihkan pikiranku darinya. Segala hal bercampur aduk dalam otakku, membuatku tak bisa berkonsentrasi sama sekali. Keadaan ibu yang sakit-sakitan semakin memperburuk suasana hatiku. Namun aku tak sanggup menangis, setidaknya, tidak di depan ibu dan Reihan. Jika memang ini yang terbaik untuk menjaga perasaan mereka, kurasa aku akan sanggup berpura-pura tersenyum bahagia dan menganggap segalanya akan baik-baik saja.
                       “ibu, bisakah ibu menceritakan padaku apa yang dilakukan Reihan dalam mimpi ibu?” Tanyaku pada ibu ketika jam makam malam tiba. Ibu mengangguk sambil menyendok makanannya.
                       “seingat ibu, ibu melihat Reihan mengunjungi taman bunga ibu, lalu memeluk ibu. Awalnya ibu takut padanya, karena sikapnya yang aneh itu. Namun ketika Reihan memeluk ibu, ibu merasakan ketenangan dalam jiwa, semua masalah ibu seakan terangkat dari kepala. Kemudian dia tersenyum pada ibu dan berkata ‘terimakasih atas segalanya’, lalu mencium punggung tangan ibu dan pergi” jelas ibu panjang lebar.
                       Jantungku berpacu cepat, aku tak ingin mengetahui apa arti dari mimpi itu. Mengapa Reihan mengatakan itu pada ibu? Namun ketika mendengarnya, seakan-akan aku sedang memutar rekaman yang telah lama tak pernah kudengarkan. Bayangan wajah Reihan yang teduh memenuhi seluruh otakku. Aku tak menyadari tanganku yang gemetar hebat sampai mendengar suara dentingan sendok yang jatuh dari genggamanku.
                       “kau kenapa sayang?” selidik ibu panik. Aku tersadar dan segera menghapus air mata dengan ujung jilbabku.
                       “tak apa-apa bu, aku hanya teringat sesuatu” jawabku pelan, aku mencoba menyuapkan sesendok nasi dari piringku, namun lidahku tak mampu merasakan apapun.
                       “ceritakan pada ibu, apa yang membuatmu begitu gelisah?”
                       “emm…ibu… salahkah jika kita mencintai seseorang yang sudah pasti tidak akan bisa bersama kita?” tanyaku lirih. Ibu tersenyum.
                       “mengapa dia tidak akan bisa bersama kita?”
                       “karena…dia akan meninggalkan kita selamanya…” bisikku, bibirku bergetar ketika mengatakan itu.
                       “bukankah setiap orang pasti akan meninggal cepat atau lambat? Kenapa kau begitu merisaukannya? Tentu saja kita berhak mencintai siapapun, meski…” ibu tak melanjutkan kata-katanya. Aku tahu pasti apa yang tiba-tiba terlintas dipikirannya.
                       “sudah jangan dibahas lagi deh bu. Kita habiskan saja makan malam ini, kelihatannya enak sekali!” aku mencoba mengalihkan pembicaraan dan berhasil. Kusuapkan sekali lagi sendok ke dalam mulutku, namun sama saja, aku tak bisa merasakan makanan ini sama sekali.
                       Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang membuatku terperanjat,
Read More

Senin, 29 Agustus 2011

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (3)

                Kulangkahkan kakiku menuju pemakaman. Sudah lama aku tak mengunjunginya, sudah lebih dari setengah tahun lalu. Pemakaman ini terlihat begitu damai, aku mampu merasakan ketenangan disini. Aroma bunga kamboja berebut masuk menyentuh hidungku, wangi sekali. Tak pernah kurasakan mekarnya sewangi ini sebelumnya. Matahari di ufuk Barat masih memancarkan sinarnya yang kini telah menjadi merah tembaga. Aku berhenti tepat di depan makamnya. Apa tak ada satupun orang yang mengunjunginya sebelum aku? Makam ini tampak sangat kotor dan tak terawat. Nisannya nyaris tertutup lumut dan banyak daun-daun kering menyelimuti tanahnya.

                Kuletakkan rangkaian bunga kriysan yang sejak tadi kugenggam erat, disamping makam beserta tas yang kugantungkan dipundak kiriku. Kucabuti satu persatu rumput yang tumbuh subur di atasnya dan menyingkirkan daun-daun kering.
                “Assalamu’alaikum… Maaf ya re, baru sekarang aku bisa mengunjungimu. Bagaimana kabarmu?” ucapku. “baik kan? Nah…sekarang sudah bersih. Apa kau merasa nyaman?” Kuambil sebotol air mineral dalam tasku dan menuangkannya di atas makam yang kini telah bersih.
                “hey, lihat apa yang kubawakan untukmu. Taadaa…! Bunga kriysan kesukaanmu. Kau pasti senang…” kuletakkan rangkaian bunga itu tepat di depan nisan. “ah aku lupa membersihkan nisannya… Huft, kenapa lumut-lumut ini tumbuh dan menyebar begitu cepat yah…” keluhku muram. Kuambil tisu dalam tasku lagi dan mengusapnya pada nisan hingga tulisan dalam nisan itu terlihat jelas.
                “emm… Re… Apa kau pernah patah hati? Maaf yah, aku tak sempat menanyakannya padamu…” kini nisan itu telah benar-benar bersih. “haha… bahkan aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padamu…” aku merasakan air mata mengambang dipelupuk mataku.
                “aku mencintai seseorang… tapi sekarang dia juga telah pergi…” lirihku. “tahukah kau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai?” aku duduk disamping makam itu dengan menekuk kedua lututku kedada.
                “tidak, tidak… Kali ini aku yang membuat keputusan itu. Aku yang meninggalkannya, dia, orang yang kumaksud tadi…” kupandangi makamnya, lama sekali. “dia…ternyata telah mencintai orang lain. Tahukah kau bagaimana rasanya? Rasanya lebih sakit dari pada paku yang tak sengaja bersamaan kita injak didepan rumahmu, ingat?” aku tersenyum mengingat kembali kenangan itu.
                “waktu itu aku pikir aku akan mati kehabisan darah. Hahaha…” tawaku. Kini memandang ke arah matahari. “apa tadi aku sudah menyebut namanya? Emm, aku biasa memanggilnya Pangeran Senja. Kau tau, dia juga pernah memanggilku Putri Bintang. Sama seperti sebutanmu padaku dulu”
                “tapi dia berbeda denganmu, tentu saja. Kau selalu menghinaku jika aku berkata yang indah-indah tentang langit, tapi dia tidak. Kau sering mentertawakan aku kalau aku berangan-angan tentang bintang, tapi dia tak akan pernah melakukan itu. Hanya saja…dia… Yah, kalian memang berbeda…” entah mengapa air mataku menetes lagi tanpa sebab.
Read More

Symphoni Hening (3)

“kenapa? Bukankah itu hal yang bagus?” aku mengerutkan keningku. Namun dia hanya mengangkat bahunya dan kembali tersenyum.
                “sudahlah… Hey, ini sudah larut malam, lebih baik kau pulang”
                “dan meninggalkan ibu sendiri disini? Tidak akan.” Jawabku jelas. “aku akan tidur di…”
                “kau perlu menyiapkan segala sesuatunya, juga kebutuhan ibumu. Pulanglah, biar aku yang menjaganya” aku memandang mata Reihan, ada ketulusan dalam raut wajahnya. Sebelumnya aku tak bisa mempercayai laki-laki, apalagi setelah tahu apa yang telah dilakukan ayah terhadap ibu. Namun entah mengapa aku menaruh kepercayaan kecil padanya, pada Reihan. “pulanglah… lihat rambutmu, kau bahkan lebih parah dari pasien-pasien disini” Raihan tertawa. Aku tersadar, rambutku! Aku tak memakai jilbab sewaktu kesini. Reflek aku menutupi kepalaku dengan kedua tangan.
                “ah…aku lupa…” lirihku. Aku benar-benar malu, bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan seperti ini?
                “pakai ini” Reihan mengulurkan selembar kain padaku. Dia mengerti apa yang tengah aku pikirkan. Tanpa bertanya lagi aku mengambil kain itu dan membentuknya sedemikian rupa hingga menutupi rambutku dengan aman. Setelah itu Reihan berdiri dan mencari sesuatu dari bawah ranjangnya dan mengeluarkan jaket, sandal, juga beberapa lembar uang dari saku piamanya. “ambil ini, dan ini (menyerahkan uang padaku) kau tak perlu berlari lagi kembali ke rumah. Oke?” cengirnya.
                “kau… mengapa…”
                “jangan bertanya lagi dan cepatlah pulang. Kau berani pulang sendiri kan?” Reihan memotong kalimatku.
                “tentu saja. Baiklah, aku pulang… Terimakasih Reihan, aku akan kembali sebelum matahari terbit” aku membalas senyumannya, dan melangkah keluar kamar. Aku percaya padanya…

                Esoknya,
                “bangun” aku mendengar suara Reihan, dan mengerjapkan mata beberapa kali. Kuamati ruangan disekitarku, dan juga ibu yang sedang ternyenyak dihadapanku.
                “jam berapa sekarang?” tanyaku sambil menguap. “ah, apakah ibu belum sadar juga?”
                “setengah lima pagi. Belum, tapi sepertinya ibumu sudah lebih baik” Reihan memakai peci dan sarung. Aku mengamatinya sejenak, raut wajahnya nampak sangat lembut. “kau belum sholat kan? Diujung koridor sana ada mushola” ucapnya ringan.
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (2)

“kenapa kau menangis sayang?” aku menengadah mencari sumber suara itu. Bayangan anggun di depan mataku nyaris membuatku tak mengenali sosok ibu.
                “ibu…” aku memeluk pinggang ibu erat-erat, hingga air mataku jatuh membasahi busananya. Ibu membalas pelukanku.
                “ceritakan pada ibu nak, siapa yang tega membuatmu sesedih ini?” ibu membelai lembut rambutku yang tergerai panjang, dan menunggu jawabanku dengan sabar.
                “tidak ibu, akulah yang telah membuatnya sedih…” isakku. “dia… Pangeran Senja… aku membuatnya terluka…” aku terisak semakin keras dalam dekapan ibu.
                “kenapa kau lakukan itu Bintangku…?” Tanya ibu, sambil melepaskan pelukanku perlahan dan menghapus air mataku dengan ujung lengannya.
                “aku tak mengerti apa yang aku lakukan ini benar atau tidak… Tapi aku…aku tak bisa memenuhi janjiku untuk selalu bersamanya, ibu…” suaraku terdengar sangat aneh di telingaku. “aku mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kuungkapkan. Aku hanya tak ingin…dia melihatku yang seperti  ini lagi…”
                “putriku… lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Dan jangan pernah menyesali keputusan yang telah kau pilih sendiri. Kehidupan manusia itu bagaikan roda yang berputar, kadang sedih dan kadang bahagia. Tak selamanya kau akan merasakan kebahagiaan…”
                “ibu, pernahkah aku merasa bahagia sejak ibu meninggalkanku?”
                “sayang…” lirih ibu sedih.
                “pernahkah terlintas dipikiran ibu kalau aku akan baik-baik saja tanpa ibu? Aku rapuh bu… hatiku bagai kertas putih yang telah hangus termakan api, jika angin meniupnya, maka habislah sudah… hatiku akan terbang kemana angin akan membawanya… Aku tak pernah bahagia sejak ayah, ibu, pergi satu persatu dalam kehidupanku… Tidakkah ibu mengerti akan hal itu…?”
Read More

Selasa, 14 Juni 2011

Aku Mencintaimu, Yuu



Siang itu matahari benar-benar terik, cahayanya serasa membakar kulitku. Panas sekali. Namun sengatan terik matari itu tak berarti apa-apa bagiku sekarang. Tak ada yang mampu mengurangi kebahagiaanku karena bersamanya. Kueratkan pegangan tanganku dipinggangnya, sambil terus menikmati semilir angin  yang menerpa lembut wajahku. Dia menambah kecepatan sepedahnya, hingga suara derit sepedah kayuh itu terdengar semakin keras.
           “kau akan mengajakku kemana siang ini?” tanyaku dari balik punggungnya.
         “menurutmu sebaiknya kita kemana?” dia berpaling kearahku sejenak balik bertanya. Aku mengernyitkan kening.
Read More

Jumat, 20 Mei 2011

Hujan, sampaikan rinduku padanya



            Aku termenung dibalik jendela kamarku. Tersenyum memandang hujan. Kristal-kristal bening itu berebut membasahi jendela, membentuk embun memburamkan kacanya. Hawa dingin yang merembes melalui celah-celah kecil bingkai kayu itu, membuatku bergidik takjim. Kusentuh kaca jendela itu dangan telapak tanganku dan menggosoknya perlahan, agar embun-embun itu menyingkir. Entah mengapa hujan kali ini terlihat sangat indah dimataku.
            Pikiranku mulai menerawang jauh, mengingat selaksa peristiwa tentangnya, tentang hujan. Dibalik kilau tetesan-tetesan bening itu menyimpan sejuta rindu yang nyata. Rindu yang terasa begitu memilukan hingga membuatku meneteskan air mata. Kini rindu itu telah melebur, mengalir bersama tetes-tetes hujan menuju muara...
______________________________
“aku mencintaimu” ungkapnya jelas. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Padahal dia tahu pasti, aku ini milik orang lain.
            “Ryuu… kenapa kau katakan itu…” lirihku muram. Aku tak mengerti mengapa sejak tadi jantungku terus berdetak tak beraturan.
            “entahlah, aku hanya ingin kau tahu perasaanku” jawabnya. Aku tak melihat keraguan sedikitpun dari raut wajahnya.
            “kau tahu bahwa aku…”
            “milik orang lain. Aku tahu” potongnya cepat. Aku menundukkan kepala, tak ingin dia mengerti bagaimana perasaanku padanya saat ini. Sekuat tenaga, kutepis segala perasaan aneh yang membuatku begitu bimbang. Tidak. Aku tidak ingin mencintainya. Aku tidak boleh mencintainya.
            “pergilah…” bisikku lemah. Aku tak mau dia melihat air mataku sedikitpun. Aku tak mau terlihat lemah di depannya. “pergi” ulangku.
            “tidak. Aku akan menunggumu. Aku yakin kau juga memiliki perasaan yang sama denganku” jelasnya. Aku mencengkeram ulu hatiku, kenapa rasanya sesakit ini… “Ai, katakan bahwa kau juga mencintaiku…” lanjutnya.
            “aku….” Mencintaimu… ya, aku memang mencintaimu. Tapi kau tahu pasti bagaimana aturannya Ryuuka, cintamu adalah hal yang tabu bagiku... jeritku dalam hati. Air mataku meleleh. Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. “…tidak pernah mencintaimu” suaraku parau, namun tetap terdengar jelas. Perlahan aku merasakan tetes-tetes air yang jatuh di atas kerudungku. Semakin lama semakin deras, namun kami berdua tetap terpaku di tempat kami berdiri. Membiarkan guyuran hujan membasahi sekujur tubuh. Kini aku berani mengangkat wajah untuk menatapnya, karena air mataku telah berpadu dengan hujan.
            “Ai…” lirihnya. Ryuuka berjalan menghampiriku, melepas jaketnya yang basah dan membentangkannya di atas kepalaku. Melindungiku dari hujan yang semakin menjadi. Bisa kurasakan hawa dingin yang menusuk kulitku, merembes melalui celah-celah bajuku. “aku tak ingin memaksamu … aku akan segera pergi jika kau menginginkannya…”
            “maafkan aku…” aku benar-benar menangis sekarang. Ryuuka memeluk pundakku lembut. Aku memandangnya, wajahnya tetap tenang seperti biasanya, namun tampak sedikit gurat kepedihan dalam raut wajahnya. Dia tersenyum, dan menggeleng.
            “sudahlah Ai… kau dan aku tahu, bahwa kita tak bisa memaksakan perasaan seseorang. Aku bisa terima jika kau tidak mencintaiku, tapi jangan paksa aku untuk berhenti mencintaimu”
            “bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?” tanyaku sesenggukan.
            “apapun..”
            “tolong, jangan pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku, di depanku lagi” lanjutku, melepas pelukan Ryuuka perlahan. Ryuuka hanya membisu sambil menatapku tajam, sebelum kemudian mengangguk lemah. Hujan masih belum mau menyerah untuk
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja



Kusandarkan tubuhku pada kursi tua di teras rumah, sambil meneguk sedikit demi sedikit kopiku yang masih mengepulkan uap panas. Mataku tertuju pada langit sore yang membentang indah dihadapanku. Catatan kecilku yang kubiarkan tetap terbuka, perlahan melambai tertiup angin dan memperlihatkan halaman-halaman selanjutnya.
                “sejak kapan kau menyukai senja?” aku terkejut mendengar suara ibu yang tiba-tiba saja berada didekatku. Terdengar suara derit kursi disampingku ketika ibu duduk di atasnya. Aku hanya dapat tersipu dengan pertanyaan itu.
                “ah ibu, sudah pasti sejak aku sadar bahwa senja itu indah” jawabku asal.
                “ehem, jujur? Bukannya sejak kau jatuh cinta pada pangeran senja?” ibu menggodaku dengan cengiran nakalnya. Aku mengerling ibu, kulihat ia tengah asyik membuka-buka catatan kecilku.
                “jangan dibaca ibu!” kataku memohon, seraya berusaha merebut catatan itu dari tangan ibu yang sengaja diangkat tinggi-tinggi untuk menghindariku.
                “hahaha… kenapa sayang? Ada rahasia ya?” Tanya ibu tertawa. Aku hanya membuang muka yang memonyongkan bibirku beberapa centi. “nah kan…cemberut… pasti ada yang kau sembunyikan dari ibu” kesimpulan ibu benar-benar tepat sasaran.
                “hemmmmmm………” sahutku muram.
                “hem….. ’7 Desember. Benar yang dikatakan pangeran itu, senja memang selalu terlihat indah dilihat dari sudut manapun’” ibu membaca catatanku sambil setengah tersenyum. Aku melotot memandang ibu, mungkin pipiku sudah sewarna tomat sekarang ini. “’29 Desember. Pangeran itu selalu mampu melihat keindahan sekecil apapun dari segala sesuatu yang pernah dilihatnya. Andai saja aku seperti dia, pasti hidupku akan terasa lebih indah meski kenyataannya berlawanan’” ibu menghentikan bacaanya dan memandangku. Aku hanya dapat mengangkat bahuku sekilas.
                “ayolah bu… kembalikan catatanku…” kutangkupkan kedua tanganku di atas kening. Ibu hanya bergeming dan kembali membaca.
                “’11 Januari. Aku senang bisa mengenal pangeran senja itu lebih dekat…
Read More

Minggu, 31 Oktober 2010

Mencintainya

Terdengar derap langkah-langkah cepat mendekatiku. Aku berpaling ke arah derap langkah itu. Kulihat sosok yang sudah sangat aku kenal. Itu Aufa, sahabatku. Nafasnya terengah-engah ketika sudah berada di dekatku. Keringat membasahi dahinya. Dengan rambut acak-acakan dia memandangku gelisah seraya mencengkram erat bagian depan kerudung sekolahku.
“Lynn! Cindy kecelakaan!” air mata Aufa mulai merebak. Aku hanya terpaku mendengar cerita itu sesaat sebelum Aufa menarik lengan bajuku ke tempat parkir.


“Kamar nomor berapa sus?” tanya Aufa tergesa-gesa. Setelah perawat itu memberitahu kami dimana Cindy dirawat, Aufa kembali menarik lengan bajuku untuk berjalan cepat mengikutinya. Aku tak mengerti pikiran apa yang berkecamuk dibenakku hingga aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Yang aku tahu adalah Cindy tengah diantar pulang oleh Reihan dan…“Gimana ceritanya sih Cin? Bikin kaget kita aja! Gimana keadaan kamu sekarang?” tanpa sadar aku telah berada di ruangan yang kami tuju. Aku mengamati Cindy yang terbujur di atas tempat tidur dengan satu tangan dibalut perban dan ada beberapa luka di kening dan dagunya. Dia menangis memandangku dan Aufa. Kemudian mulai berbicara,
“Aku tak apa… hanya luka ringan biasa. Tapi…Rei…” Kata-katanya tersendat seakan ada batu besar di dalam tenggorokannya. Katika nama Rei itu disebut, jantungku mulai berdetak tak beraturan.
“Rei? Kamu ngomong apa sih? Kenapa dengan Rei?” Aufa masih tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Cindy.
“Aku tengah bersamanya menaiki sepeda motor ketika kemudian… Seorang pria mabuk mengendarai mobil menabrak kami. Dan… dan…” Kata Cindy terbata-bata karena kini dia tak mampu lagi menahan air matanya yg terus mengalir.
Tubuhku mati rasa. Kaki-kakiku tak mampu lagi menopang berat badanku. Seketika
Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena