✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memories. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Semangkuk Cinta #3


Rogojampi 2001|

             Baru kali ini aku tak sabar masuk sekolah sejak hujan pertama bulan Desember.
            Rasanya hari minggu ini lamaaa…sekali. Setelah beberapa menit senyum senyum sendiri di balik jendela kamarku yang basah oleh hujan, aku  memutuskan untuk pergi menemui Dian, untuk memastikan ia juga akan membawa “itu” ke sekolah. Meski tidak membelinya pada waktu bersamaan, tapi warna yang kami pilih sama persis, biru muda! Diam-diam aku meninggalkan kamar menuju pintu depan, sepertinya ibu sedang sibuk melakukan sesuatu di dapur.
            “buuu….aku ke rumah diaan…” teriakku sambil lalu. Tentu saja aku tak boleh mendengarkan izin ibu terlebih dahulu, bagaimana jika tidak boleh? Benar kan!
            Aku berlari keluar rumah dengan payung berstempel BRI yang biasa dipakai ibu. Ternyata payung itu jauh lebih berat dari dugaanku, sehingga mengangkatnya saja sudah sangat sulit. Samar-samar aku mendengar teriakan ibu dari jauh “Lin hujaaaan!” tapi sudahlah.
            “heii banguuun!” aku mengguncang tubuh Dian kuat-kuat untuk membangunkannya. Aku tahu sekarang ini memang waktunya tidur siang, tapi aku benar-benar harus memastikannya. Dian menggeliat, raut wajahnya mengatakan Pergi sana! ke arahku. Aku tak peduli.
            “Apa?!” lirihnya.
            “besok kamu bawa ituu kan? Harus! Besok pasti hujan sepulang sekolah” kataku sumringah.
            “hmm…” Dian mengganggukkan kepalanya satu kali.
            “Janji?”
            “Janji” kita melakukan janji kelingking.
            “terus?”
            “apanya?”
            “terus apa lagi yang ingin kamu bicarakan?”
            “sudah cuma itu” aku mengedikkan bahu. Ia memandangku tak percaya dan masih dengan wajah jengkelnya ketika kembali berbaring. Memang cuma itu yang ingin aku sampaikan, tapi aku tak ingin segera pulang mengingat betapa susahnya perjuanganku berlari dengan payung super besar di atasku. Jadi kuputuskan untuk tidur disampingnya siang itu.

            “Lin, dian, mana payungmu?” Tanya Sofia pada jam istirahat. Aku dan Dian saling melirik satu sama lain. Kami sudah memutuskan untuk memberi tahu Sofia rahasia kita.
            “Aku tidak membawa payung, Dian juga. Kita membawa jas hujan!” bisikku. Dian mengangguk bersemangat mengiyakan. Seperti yang kuduga, Sofia langsung memperlihatkan mimik kagumnya ke arah kami.
            “mana? Mana? Aku mau lihaaat”
            “sudahlah, nanti juga tahu” sahut Dian. Aku meliriknya kesal. Padahal aku sudah bersiap-siap membuka tasku untuk menunjukkannya pada Sofia.

            Akhirnya bel pulang sekolah terdengar juga. Teman-teman sekelas mulai berhamburan ricuh karena hujan siang itu terlalu deras untuk diterjang oleh para lelaki, seperti anak kecil saja, pikirku. Mereka yang membawa payung juga ikut-ikutan ricuh karena payung saja tak cukup melindungi mereka dari angin yang menerbangkan hujan. Aku mengeluarkan jas hujan biru muda dari dalam tas dan mulai memakainya, Dian juga melakukan hal yang sama. Aku merasakan suasana mulai hening dan semua anak memandang ke arah kami. Mungkin karena kami yang pertama kali punya jas hujan kecil seperti ini di kelas.
            Jas hujan kami berwarna biru muda dengan model yang sama persis, atasan baju lengan selutut dengan hoodie pelindung kepala dan bawahan celana panjang. Hanya gambar pada jas hujan itulah yang membedakannya. Kami memakainya secepat kilat hingga melupakan satu hal, bagaimana dengan tas kami?
            “bagaimana caramu memakai tas?” celetukku pada Dian. Ia memandangku dengan pandangan yang sama.
            “coba kita pakai dulu tasnya lalu kita pakai jas hujannya” jawabnya. Kami mencobanya. Tiba-tiba segerombolan anak lelaki terbahak sambil berteriak ke arah kami.
            “hei, ada orang bungkuk! hahahahaa”
            Wajah kami memerah karena malu, benar juga... kami jadi terlihat seperti orang bungkuk. Lagi pula ternyata jas hujan ini sama sekali tidak melindungi sepatu kami. Aku cepat-cepat menanggalkan jas hujan yang sudah dua kali kupakai itu kemudian berpikir keras.
            “bagaimana kalau kita bungkus tas dan sepatu kita dengan jas hujan ini? tak masalah baju kita basah, nanti kan bisa dijemur? Tapi kalau sepatu dan tas lama sekali keringnya” jelasku pada dian panjang lebar. Dian sepertinya setuju dengan ide cemerlangku dan perlahan membuka jas hujannya. Kami membuka sepatu dan kaos kaki lalu membungkusnya dengan atasan jas hujan bersamaan dengan tas. Setelah rapi terbungkus, kami mulai bersiap-siap keluar kelas.
            “kalian ini sedang apa?” Tanya Sofia yang dari tadi memperhatikan kami dengan raut keheranan di wajahnya. Kami tersenyum bersamaan.
            “maaf sof, kami tak bisa pulang denganmu karena kami harus lari secepat kilat sambil membawa ini” kata Dian seraya menunjuk bungkusan yang mirip kantong sampah berwarna biru. Aku mengangguk. Sofia hanya mengedikkan bahunya seakan berkata “terserah” dalam hati.

            Aku berlari sekuat tenaga bersama Dian menerjang hujan yang sepertinya tak mau mengalah sama sekali. Karena tas dan sepatu kami lumayan berat, kami menyeretnya sepanjang jalan menuju rumah. Rasanya menyenangkan sekali. Entah mengapa aku merasa puas karena jas hujan ini bisa melindungi tas dan sepatuku dengan sempurna meskipun kami harus berkorban basah kuyub demi itu.
            Akhirnya kami berpisah dipersimpangan jalan, masih dengan tawa penuh kemenangan. Dengan polosnya aku membuka pintu rumah dan menerobos masuk menuju dapur. Seantero ruangan jadi bau tanah dan basah oleh air yang menetes dari sekujur tubuhku. Setelah melemparkan bungkusan tas dan sepatu, aku langsung ke kamar mandi untuk berbilas sebelum kemudian ibu muncul dari dalam kamar dengan suara seperti tercekik.
            “Masya Allah nak… kok bisa basah semua to nduk…” aku meringis tanpa dosa dan menjelaskan apa yang baru saja aku lakukan.
            “Ya Allah… coba lihat ini!” ibu mengambil jas hujan yang membungkus tas dan sepatuku dan melebarkannya agar aku bisa melihat dengan jelas. Seketika itu juga rasa puas dan bangga dalam dadaku menguap begitu saja ketika melihat jas hujanku dalam kondisi sangat kritis. Terdapat lubang dan sobekan dimana-mana dan kotornya……minta ampun.
            “kalau sudah seperti ini tak mungkin bisa kamu pakai lagi” ujar ibu, nadanya terdengar sedih. Setelah itu aku hanya bisa meratapi jas hujan biru muda yang baru saja aku pakai hari ini sambil terisak keras. Ibu tak henti-hentinya mengatakan “sudahlah, kita beli yang baru dengan kesepakatan tak boleh memakainya untuk membungkus apapun lagi”. Tapi aku menolaknya. Tidak jas hujan lagi.

            Esoknya di sekolah. Kulihat raut wajah Dian sama muramnya denganku, aku tak tahu apakan nasib jas hujannya sama seperti jas hujanku atau malah lebih parah. Aku tak mau bertanya, karena sejak itu kami memutuskan untuk tidak membahas apapun yang berhubungan dengan jas hujan.
            “Lin, Dian, coba lihat jas hujan baruku!” kata beberapa anak di kelas seusai sekolah. Mereka mengeluarkan setelan jas hujan seperti punya kami dengan warna-warna yang kekanakan, menurutku. “Keluarkan jas hujan kalian, kita pulang sama-sama yuk!”
            “percuma pakai jas hujan, yang penting kan kepala kita terlindungi dari hujan” kata Dian seraya berjalan keluar kelas dengan payung kecil seukurannya.
            Aku menahan air mata sekuat tenaga sambil membuka payung BRI milik ibu yang kebesaran lalu berlari pulang menuju rumah.
____________________________________

Read More

Semangkuk Cinta #2


Rogojampi, 2004 |

            “Assalamu’alaikuuuum…” teriakku ketika masuk kelas dengan menenteng sekeresek besar bungkusan-bungkusan susu kedelai di tangan kananku.
“Wa’alaikum salam!” Sontak sebagian penghuni kelas mengerumuniku. Dengan santainya aku meletakkan keresek itu di atas bangkuku dan membiarkan teman-teman mengambil pesanan mereka. Satu persatu mereka menyodorkan uang receh lima ratus rupiah ke arahku yang langsung aku masukkan ke dalam saku. Tak beberapa lama bel masuk berbunyi.
            “sayang nggak bisa diminum sekarang, sudah masuk” bisik Dian, teman sebangkuku. Aku senang melihat wajah kecewanya ketika memasukkan bungkusan susu kedelai ke laci bawah bangku.
            “sst…kita minum diam-diam saja selagi pak guru menjelaskan!” balasku berbisik. Kami berdua terkikik bersamaan, namun memutuskan untuk meletakkannya kembali dalam laci.

            “ini bu, lima ribu” aku memberikan uang receh kepada ibu.
            “lho? Kan tadi ibu bawakan dua belas bungkus?”
            “yang dua aku minum sendiri” jawabku tanpa dosa.
            “kan Lin sudah bawa satu untuk diminum? Jadi totalnya tiga belas bungkus”
            “ah…berarti aku minum tiga bu! Hehehe”
            Ibu hanya tertawa menggelengkan kepalanya seraya meletakkan uang receh itu ke dalam gelas plastik di atas kulkas. Aku meminta gelas itu, menumpahkan isinya ke lantai dan mulai menghitung hasil yang kami peroleh hari ini. Semakin bertambah dari hari pertama kami menjualnya.
            Ibu juga menambah bahan kedelai lebih banyak dan hampir tiap malam aku menemani ibu membungkus susu kedelai, terkadang aku dan adik mengerjakan PR disamping ibu yang tengah serius membungkus atau membantunya mengaduk-aduk susu kedelai dalam panci di atas kompor. Ibu memberikan perasa buah-buahan pada susu kedelai yang sudah akan dibungkusnya. Aku dan adik mendapat kesempatan memilihkan rasa-rasa itu dan selalu berharap ada sisa di baskom yang terlalu sedikit untuk ikut dibungkus.
Ibu… Ibu yang tak pernah berhenti tersenyum meski harus semalaman mengerjakan itu setelah seharian membereskan pekerjaan rumah dan memasakkan makanan untuk kami bertiga setiap hari…

|| Rogojampi, 1999 ||

            “lho? Kok ibu ikut mengantar juga?” lirihan pelan yang kutujukan pada ayah rupanya terdengar juga oleh ibu.
            “ibu kan juga ingin melambaikan tangan ketika Lin masuk ke dalam sekolah” bisik ibu di dekat telingaku. Aku hanya menunduk.
            Sehari sebelumnya Shinta pernah berkata padaku dan teman-teman yang lain. Bahwa anak yang diantar sekolah oleh ibunya itu adalah anak manja dan dia tidak mau berteman dengan anak manja. Ada diantara teman-temanku yang ikut mendengarkan menangis seketika karena ibunya tak hanya mengantar, tapi bahkan menunggunya hingga sekolah usai. Bagaimana jika Shinta tak mau berteman denganku lagi?
            “sudah yaah….sampai sini saja!”
            “kenapa?” meski keheranan ayah tetap menghentikan motor di depan masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari sekolahku, Aisyah Bustanul Atfal. Seketika aku bergegas turun dari motor. Ibu yang duduk di belakang ayah sambil menggendong adik, menghentikan langkahku.
            “kenapa to nduk?”
            Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin sekali menangis. Namun aku berhasil mencegahnya dengan berteriak kepada ibu.
            “Lin malu kalau ibu ikut mengantar!” aku berlari ke arah gerbang sekolah tanpa berpamitan dan tanpa melihat ke belakang lagi. Langkah kakiku yang pendek membuat gerbang terasa sangat jauh. Aku tahu ibu masih memandangiku di depan masjid dengan pandangan sedih.
            Sejak awal ibu memang tak pernah mengantarku apalagi menungguiku di sekolah. Hanya pada saat pertama kali aku masuk sekolah, karena ibu harus merawat adik yang masih berumur kurang dari dua tahun. Kakiku berhenti berlari. Kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajahku dan menangis. Aku ingin melihat ke belakang sekali lagi. Apa ibu masih berdiri disana? Apa ibu juga menangis sama sepertiku? Apa ibu masih ingin melambaikan tangan padaku seingin aku melambaikan tangan padanya? Tapi aku tak pernah tahu.
Read More

Selasa, 04 November 2014

Semangkuk Cinta #1


“ibu bikin apa?”
“bikin susu sari kedelai, nanti kita jual nduk, buat tambah-tambah uang jajanmu”
“asyiik…., tapi bu, aku lebih suka bawa ini untuk saku di sekolah, jadi ndak perlu uang jajan”
“iya, tapi tetap harus dijual, buat makan kita juga to nduk” ibu tersenyum mengusap rambutku.
“o….” dengan polosnya aku hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-kata ibu.
            Malam itu aku menghabiskan waktu menemani ibu membungkus satu persatu sari kedelai dari baskom besar ke plastik-plastik kecil. Aku tak membantu, hanya bercerita banyak-banyak tentang apa yang terjadi hari ini dari berangkat sekolah hingga pulang. Sesekali ibu tertawa mendengarnya, membuatku semakin semangat untuk bercerita hingga bungkusan terakhir diletakkan ibu ke dalam keranjang plastik. Sembari membangunkan ayah yang terlelap di depan tv untuk menggendong adik ke tempat tidurnya, ibu memintaku untuk menata bungkusan-bungkusan susu ke dalam kulkas.
            “ibu, apakah kita akan menjualnya berkeliling kampung?”
            “tidak sayang, kita akan menjualnya disini, biar orang-orang yang datang kemari untuk membeli. Nanti kita tempel tulisan ‘jual susu kedelai’ di depan pintu rumah ya?”
            “iyaa” jawabku bersemangat.

            “ibuuuu….. aku pulaaaang” aku menyembur masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan betapa sepatu yang masih kukenakan mengotori lantai rumah dari ruang tamu hingga dapur.
            “wa’alaikum salaam…” jawab ibu yang tengah mencuci piring di westafel. Aku tersipu.
            “as…salamu’alaikuum… hehehe. Lupa” dalihku, seraya mencium tangan kanan ibu yang basah. Langsung saja aku tanggalkan seragam sekolahku, bertumpukan dengan sepatu dan tas warna coklat kesayanganku, lalu berlari ke kamar mandi mengabaikan teriakan lembut ibu yang menyuruhku menaruh semua barang-barang itu pada tempatnya.
            “bu…bu, tadi teman-teman banyak yang minta susu yang aku bawa. Dian, Sofia, Intan, Indah, banyak bu. Kata mereka besok aku harus membawa lagi” jelasku ketika keluar dari kamar mandi. Ibu hanya tersenyum sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tumpukan barang-barangku. Dan sekali lagi aku mengabaikannya.
            “lalu aku bilang, ibuku jualan susu kedelai di rumah. Kalo mau ya beli! Hahaha” entah kenapa pada saat itu aku sudah bisa berfikir tentang bisnis.
            “lalu?”
            “besok aku bantuin jual ke sekolah ya bu? Pasti laku! Banyak yang suka kok bu…”
            “kamu ndak malu jualan di sekolah?”
            “ndak bu!”
Aku hampir melompat kegirangan ketika ibu mengangguk dengan senyuman. Aku memeluk perutnya dan berlari keluar dapur, takut kalau tiba-tiba ibu sadar aku belum membereskan barang-barangku. Mana bisa, tak ada waktu! Aku ada janji dengan Dian akan main di rumahnya sepulang sekolah. Namun yang kudengar teriakan ibu dari dapur adalah:
“jangan lupa pakai baju!”
 
===========================



Read More

Selasa, 20 Maret 2012

Twelve Science Three in Action

Assalamu'laikum, wr, wb..

that is the photos from my last year in Senior High School. I hope we still become a bestfriends ever after... May Allah keep our friendship forever... Ameen.

 thats when my lovely teacher's birthday "mr. Hadiri"


Tweester Girl's action ;)


 Tweester Boy's action ^_~




Just it,
Wassalamu'alaikum.. ^_^
Read More

Jumat, 28 Oktober 2011

Bahagialah, apapun yang terjadi



Aku tak mengharapkanmu selalu hadir saat aku membutuhkanmu. Tidak, aku bahkan tak pernah memintamu untuk bisa memahami jalan fikiranku. Meski setiap saat aku selalu berharap bisa menjadi kekuatan bagimu, bisa menjadi semangat yang membuatmu mempertahankan senyuman itu sampai kapanpun, aku ingin melihatmu dari dekat, dan merasakan apa yang sedang kau rasakan. Aku selalu berusaha untuk memahami kerumitan ceritamu, mencoba menyederhanakan tiap istilah di otakmu, tapi tak semudah itu bagiku. Aku terlalu bodoh karena berharap bisa sejajar denganmu, tak ubahnya seperti kunang-kunang yang mencoba menerangi langit di siang hari. 
Bagiku, senyummu adalah satu-satunya penerang nyata dalam kehidupan gelapku, yang membuatku berani bermimpi tentang hal-hal yang mungkin saja mustahil terjadi. Tapi aku buta tentangmu, tak mengerti apapun tentang duniamu, kepalaku rasanya kosong dengan hal-hal yang tidak aku ketahui. Yang aku tahu hanyalah, begitu banyak cerita yang tidak kuketahui tentangmu.
Read More

Sabtu, 24 September 2011

Selamat Ulang Tahun ke-17

Selamat ulang tahun Yusuf,
semoga semua yang terbaik tertuju padamu tahun ini, tetap semangat jalani hari-harimu, tetaplah jadi Yusuf yang bisa jadi kebanggaan orang-orang terdekatmu. Tetaplah tegar pada apa yang hendak kau raih, dan tetap tersenyum untuk orang-orang yang sangat menyayangimu.
Dunia ini  indah karena karena ada seseorang sepertimu dan ibu. Orang-orang yang selalu memaknai arti dari setiap perjalan hidup yang ditempuhnya, orang-orang hebat yang suatu saat akan mendapatkan kebahagiaan abadi.

Terimakasih karena pernah menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidupku,
dan sampai saat ini dan seterusnya, aku berharap tak ada lagi kesedihan yang terukir di raut wajahmu...

Selamat ulang tahun sekali lagi, Yusuf...
Read More

Senin, 29 Agustus 2011

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (3)

                Kulangkahkan kakiku menuju pemakaman. Sudah lama aku tak mengunjunginya, sudah lebih dari setengah tahun lalu. Pemakaman ini terlihat begitu damai, aku mampu merasakan ketenangan disini. Aroma bunga kamboja berebut masuk menyentuh hidungku, wangi sekali. Tak pernah kurasakan mekarnya sewangi ini sebelumnya. Matahari di ufuk Barat masih memancarkan sinarnya yang kini telah menjadi merah tembaga. Aku berhenti tepat di depan makamnya. Apa tak ada satupun orang yang mengunjunginya sebelum aku? Makam ini tampak sangat kotor dan tak terawat. Nisannya nyaris tertutup lumut dan banyak daun-daun kering menyelimuti tanahnya.

                Kuletakkan rangkaian bunga kriysan yang sejak tadi kugenggam erat, disamping makam beserta tas yang kugantungkan dipundak kiriku. Kucabuti satu persatu rumput yang tumbuh subur di atasnya dan menyingkirkan daun-daun kering.
                “Assalamu’alaikum… Maaf ya re, baru sekarang aku bisa mengunjungimu. Bagaimana kabarmu?” ucapku. “baik kan? Nah…sekarang sudah bersih. Apa kau merasa nyaman?” Kuambil sebotol air mineral dalam tasku dan menuangkannya di atas makam yang kini telah bersih.
                “hey, lihat apa yang kubawakan untukmu. Taadaa…! Bunga kriysan kesukaanmu. Kau pasti senang…” kuletakkan rangkaian bunga itu tepat di depan nisan. “ah aku lupa membersihkan nisannya… Huft, kenapa lumut-lumut ini tumbuh dan menyebar begitu cepat yah…” keluhku muram. Kuambil tisu dalam tasku lagi dan mengusapnya pada nisan hingga tulisan dalam nisan itu terlihat jelas.
                “emm… Re… Apa kau pernah patah hati? Maaf yah, aku tak sempat menanyakannya padamu…” kini nisan itu telah benar-benar bersih. “haha… bahkan aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padamu…” aku merasakan air mata mengambang dipelupuk mataku.
                “aku mencintai seseorang… tapi sekarang dia juga telah pergi…” lirihku. “tahukah kau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai?” aku duduk disamping makam itu dengan menekuk kedua lututku kedada.
                “tidak, tidak… Kali ini aku yang membuat keputusan itu. Aku yang meninggalkannya, dia, orang yang kumaksud tadi…” kupandangi makamnya, lama sekali. “dia…ternyata telah mencintai orang lain. Tahukah kau bagaimana rasanya? Rasanya lebih sakit dari pada paku yang tak sengaja bersamaan kita injak didepan rumahmu, ingat?” aku tersenyum mengingat kembali kenangan itu.
                “waktu itu aku pikir aku akan mati kehabisan darah. Hahaha…” tawaku. Kini memandang ke arah matahari. “apa tadi aku sudah menyebut namanya? Emm, aku biasa memanggilnya Pangeran Senja. Kau tau, dia juga pernah memanggilku Putri Bintang. Sama seperti sebutanmu padaku dulu”
                “tapi dia berbeda denganmu, tentu saja. Kau selalu menghinaku jika aku berkata yang indah-indah tentang langit, tapi dia tidak. Kau sering mentertawakan aku kalau aku berangan-angan tentang bintang, tapi dia tak akan pernah melakukan itu. Hanya saja…dia… Yah, kalian memang berbeda…” entah mengapa air mataku menetes lagi tanpa sebab.
Read More

Selasa, 14 Juni 2011

Aku Mencintaimu, Yuu



Siang itu matahari benar-benar terik, cahayanya serasa membakar kulitku. Panas sekali. Namun sengatan terik matari itu tak berarti apa-apa bagiku sekarang. Tak ada yang mampu mengurangi kebahagiaanku karena bersamanya. Kueratkan pegangan tanganku dipinggangnya, sambil terus menikmati semilir angin  yang menerpa lembut wajahku. Dia menambah kecepatan sepedahnya, hingga suara derit sepedah kayuh itu terdengar semakin keras.
           “kau akan mengajakku kemana siang ini?” tanyaku dari balik punggungnya.
         “menurutmu sebaiknya kita kemana?” dia berpaling kearahku sejenak balik bertanya. Aku mengernyitkan kening.
Read More

Jumat, 20 Mei 2011

Catatan kecil tentang Pangeran Senja



Kusandarkan tubuhku pada kursi tua di teras rumah, sambil meneguk sedikit demi sedikit kopiku yang masih mengepulkan uap panas. Mataku tertuju pada langit sore yang membentang indah dihadapanku. Catatan kecilku yang kubiarkan tetap terbuka, perlahan melambai tertiup angin dan memperlihatkan halaman-halaman selanjutnya.
                “sejak kapan kau menyukai senja?” aku terkejut mendengar suara ibu yang tiba-tiba saja berada didekatku. Terdengar suara derit kursi disampingku ketika ibu duduk di atasnya. Aku hanya dapat tersipu dengan pertanyaan itu.
                “ah ibu, sudah pasti sejak aku sadar bahwa senja itu indah” jawabku asal.
                “ehem, jujur? Bukannya sejak kau jatuh cinta pada pangeran senja?” ibu menggodaku dengan cengiran nakalnya. Aku mengerling ibu, kulihat ia tengah asyik membuka-buka catatan kecilku.
                “jangan dibaca ibu!” kataku memohon, seraya berusaha merebut catatan itu dari tangan ibu yang sengaja diangkat tinggi-tinggi untuk menghindariku.
                “hahaha… kenapa sayang? Ada rahasia ya?” Tanya ibu tertawa. Aku hanya membuang muka yang memonyongkan bibirku beberapa centi. “nah kan…cemberut… pasti ada yang kau sembunyikan dari ibu” kesimpulan ibu benar-benar tepat sasaran.
                “hemmmmmm………” sahutku muram.
                “hem….. ’7 Desember. Benar yang dikatakan pangeran itu, senja memang selalu terlihat indah dilihat dari sudut manapun’” ibu membaca catatanku sambil setengah tersenyum. Aku melotot memandang ibu, mungkin pipiku sudah sewarna tomat sekarang ini. “’29 Desember. Pangeran itu selalu mampu melihat keindahan sekecil apapun dari segala sesuatu yang pernah dilihatnya. Andai saja aku seperti dia, pasti hidupku akan terasa lebih indah meski kenyataannya berlawanan’” ibu menghentikan bacaanya dan memandangku. Aku hanya dapat mengangkat bahuku sekilas.
                “ayolah bu… kembalikan catatanku…” kutangkupkan kedua tanganku di atas kening. Ibu hanya bergeming dan kembali membaca.
                “’11 Januari. Aku senang bisa mengenal pangeran senja itu lebih dekat…
Read More

Senin, 02 Mei 2011

Matahari...

Jam dinding pada kamarku telah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun mataku masih belum bisa terpejam juga. Aku mencoba mendengarkan suara yang bisa kudengar selain suara detik jarum jam yang mengalun teratur. Sepertinya adik telah tertidur di kamarnya. Malam ini hanya ada aku dan adik di rumah, karena ayah dan bunda tengah mengurus perceraian mereka yang akan resmi dibuka di pengadilan besok. Aku keluar kamar, dengan mengenakan jaket dan jilbab hitam kesayanganku. Kubuka pintu belakang perlahan, menuju halaman belakang rumah. Udara malam menyapa lembut wajahku, dingin. Aku menengadah memandang langit. Malam ini tak begitu cerah. Hanya ada beberapa kerlip bintang dan cahaya samar dari bulan yang belum bulat sempurna. Kuletakkan tubuhku dibangku kayu kecil sambil tetap menikmati keindahan malam. Aku mencoba merasakan keheningan dalam kegelapan yang menyelimutiku, berharap mendung segera menyingkir agar bulan dapat sedikit berbagi cahayanya denganku, menghapus sedikit kegelisahanku…
            “hai bulan…” aku terperanjat mendengar suara yang tiba-tiba muncul di dekatku. Kulihat adik dengan santai menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku. Ia tersenyum dan menampakkan giginya yang putih dalam keremangan cahaya bulan. “kenapa kau gak balas menyapaku?” tanyanya. Aku tak mengerti pada siapa pertanyaan itu tertuju. Aku atau bulan? “hei!” ia menepuk pundakku pelan. Aku?
            “aku bukan bulan” sahutku cepat. Kulirik adik yang nyengir lebar di sampingku.
            “kau bulan bagiku” jawabnya, masih tersenyum.
            “bukan. Aku bintang” protesku.
            “kau bulan. Karena kau gak pernah bisa memancarkan cahayamu sendiri tanpa ada yang mendukungmu, yang membantumu bersinar” jelasnya. Aku termenung mendengar kata-katanya.
            “lalu menurutmu, siapa yang akan membantuku bersinar?
            “tentu saja matahari. Aku” jawabnya. Aku memandangnya takzim. Semua yang dikatakannya benar-benar tepat sasaran. Tapi aku belum bisa menerimanya. Aku ini bintang. Dari dulu semua menyebutku bintang.
            “mengapa harus kau?” lirihku.
            “karena dalam kasus ini,
Read More

Sabtu, 30 April 2011

Tersenyumlah, senja...



Kubuka pintu yang menuju ke halaman belakang rumahku dan menemukan ibu tengah duduk dibangku kecil diantara petak-petak sansievera dan adeniumnya yang hampir membusuk karena terlalu sering disiram. Pandangan ibu lurus kedepan dengan tatapan kosong. Aku tahu, pikirannya tengah melayang lagi kesuatu tempat, dimana ia tak lagi merasakan penderitaan yang terus menghantuinya. Kuhampiri ibu dan duduk disebelahnya. Tak sedikitpun ibu menyadari kehadiranku. Aku menengadah memandang langit. Nampak semburat warna merah tembaga di ufuk barat. Senja hampir tiba…
“ibu…” sapaku. Kulirik ibu yang tetap membisu dan terbuai dalam lamunannya.
“ibu….” Panggilku lagi. Kali ini ibu melihatku. Ia mengamatiku sejenak sebelum kembali pada pandangan yang aku tak tahu kemana arahnya. Aku menghembuskan nafas panjang dan memulai pembicaraan, “senjanya indah ya bu…?” tanyaku. Pertanyaan yang aku yakin tak akan mendapatkan jawabannya.
“senjanya indah…lihat ibu, ada sekelompok burung yang terbang ke selatan!” celotehku nyaring, sambil menunjuk kelangit.  “burung-burung itu terlihat sangat bahagia ya, bu?” aku memandang ibu sambil tersenyum, namun ibu tetap setia dalam diamnya.
“ibu…ibu.. lihat! Matahari di ufuk Barat tersenyum pada kita. Lihat ibu! Tidakkah ibu membalas senyumannya?” ibu tetap saja diam, sama sekali tak menghiraukan aku. “wah…sayang sekali… padahal senyuman ibu jauh lebih indah dari pada cahaya itu…” keluhku muram.
Ibu memandangku, berkedip beberapa kali, kemudian menatap tajam matahari yang hendak beranjak keperaduannya. Lama sekali ibu memandanginya, sebelum akhirnya mampu mengulum senyum walau masih terlihat samar.
“indahkan, bu?” Tanyaku riang. Ibu mengangguk satu kali.
“ibu ingin kesana” kata ibu tiba-tiba, seraya menunjuk kearah matahari itu. Aku tersenyum mendengar ucapannya.
“itu terlalu jauh bu…” sambungku. Ibu menggeleng lemah.
“ibu ingin ke tempat indah itu…” sorot matanya terlihat sedih.
“tidak ibu, matahari kala senja hanya akan terlihat indah jika dilihat dari jauh. Kalau didekati, keindahan itu pasti akan menghilang” jelasku, mengulang kata-kata ibu yang pernah ia sampaikan padaku dulu, bertahun-tahun silam. Ibu mengerutkan kening, tidak terima dengan penjelasanku.
“mengapa semua yang indah selalu menghilang jika ibu menghampirinya? Apa salahnya ibu menikmati keindahan itu dan merasa bahagia karenanya…” ibu menangis. Aku mendekat semakin rapat pada ibu, memeluknya lembut. “apakah selamanya ibu hanya bisa melihatnya dari jauh saja…” ibu terisak semakin keras.
“ibu… kan ibu sering mengatakan padaku, bahwa Allah telah menentukan kebahagiaan sendiri untuk masing-masing hambanya. Jika ibu belum bahagia sekarang, mungkin esok atau entah kapan kebahagiaan itu akan menghampiri ibu. Tidak semua hal yang indah akan membuat kita bahagia. Terkadang kebahagiaan itu justru ada pada sesuatu yang sama sekali tidak kita sadari keindahannya. Begitukan yang selalu dikatakan ibu dulu?” tangisan ibu mereda dan dengan lembut kulepaskan pelukanku pada ibu.
“apakah…kau bahagia, nak?” Tanya ibu sesenggukan. Aku tersenyum sambil menggenggam erat kedua tangan ibu.
“tentu saja bu… apalagi yang membuatku bersedih jika ada ibu disisiku?” jawabku. “ibu adalah satu-satunya alasan bagiku untuk bertahan hidup. Memiliki ibu dan adik adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku…” mataku mulai berkaca-kaca.
“ibu tidak bisa membuat kalian berdua bahagia seperti dulu…”
“tidak bu… Kebahagiaanku dan adik adalah melihat ibu tersenyum” air mataku terjatuh, namun dengan segera kuhapus air mata itu dengan ujung jilbabku. “karena itu, tersenyumlah bu… Kami tidak akan pernah meninggalkan ibu sendiri. tersenyumlah bersama kami, orang-orang yang sangat mencintai ibu…” ibu kembali tersedu dalam pelukanku. Namun aku yakin, kali ini ibu tersenyum dalam tangisnya.
Kulirik matahari yang juga tersenyum menampakkan keindahannya melalui sinarnya yang mewarnai langit serupa merah keemasan. Senja turut merasakan kebahagiaanku. Aku tersenyum pada langit. Aku tahu, aku mampu bertahan menghadapi apapun selama ada adik dan ibu di sampingku. Selama ada matahari dan senja yang menemaniku.

Ailynn
Rogojampi, Mei 2009



Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena