✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ungkapan Hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2016

Semangkuk Cinta #3


Rogojampi 2001|

             Baru kali ini aku tak sabar masuk sekolah sejak hujan pertama bulan Desember.
            Rasanya hari minggu ini lamaaa…sekali. Setelah beberapa menit senyum senyum sendiri di balik jendela kamarku yang basah oleh hujan, aku  memutuskan untuk pergi menemui Dian, untuk memastikan ia juga akan membawa “itu” ke sekolah. Meski tidak membelinya pada waktu bersamaan, tapi warna yang kami pilih sama persis, biru muda! Diam-diam aku meninggalkan kamar menuju pintu depan, sepertinya ibu sedang sibuk melakukan sesuatu di dapur.
            “buuu….aku ke rumah diaan…” teriakku sambil lalu. Tentu saja aku tak boleh mendengarkan izin ibu terlebih dahulu, bagaimana jika tidak boleh? Benar kan!
            Aku berlari keluar rumah dengan payung berstempel BRI yang biasa dipakai ibu. Ternyata payung itu jauh lebih berat dari dugaanku, sehingga mengangkatnya saja sudah sangat sulit. Samar-samar aku mendengar teriakan ibu dari jauh “Lin hujaaaan!” tapi sudahlah.
            “heii banguuun!” aku mengguncang tubuh Dian kuat-kuat untuk membangunkannya. Aku tahu sekarang ini memang waktunya tidur siang, tapi aku benar-benar harus memastikannya. Dian menggeliat, raut wajahnya mengatakan Pergi sana! ke arahku. Aku tak peduli.
            “Apa?!” lirihnya.
            “besok kamu bawa ituu kan? Harus! Besok pasti hujan sepulang sekolah” kataku sumringah.
            “hmm…” Dian mengganggukkan kepalanya satu kali.
            “Janji?”
            “Janji” kita melakukan janji kelingking.
            “terus?”
            “apanya?”
            “terus apa lagi yang ingin kamu bicarakan?”
            “sudah cuma itu” aku mengedikkan bahu. Ia memandangku tak percaya dan masih dengan wajah jengkelnya ketika kembali berbaring. Memang cuma itu yang ingin aku sampaikan, tapi aku tak ingin segera pulang mengingat betapa susahnya perjuanganku berlari dengan payung super besar di atasku. Jadi kuputuskan untuk tidur disampingnya siang itu.

            “Lin, dian, mana payungmu?” Tanya Sofia pada jam istirahat. Aku dan Dian saling melirik satu sama lain. Kami sudah memutuskan untuk memberi tahu Sofia rahasia kita.
            “Aku tidak membawa payung, Dian juga. Kita membawa jas hujan!” bisikku. Dian mengangguk bersemangat mengiyakan. Seperti yang kuduga, Sofia langsung memperlihatkan mimik kagumnya ke arah kami.
            “mana? Mana? Aku mau lihaaat”
            “sudahlah, nanti juga tahu” sahut Dian. Aku meliriknya kesal. Padahal aku sudah bersiap-siap membuka tasku untuk menunjukkannya pada Sofia.

            Akhirnya bel pulang sekolah terdengar juga. Teman-teman sekelas mulai berhamburan ricuh karena hujan siang itu terlalu deras untuk diterjang oleh para lelaki, seperti anak kecil saja, pikirku. Mereka yang membawa payung juga ikut-ikutan ricuh karena payung saja tak cukup melindungi mereka dari angin yang menerbangkan hujan. Aku mengeluarkan jas hujan biru muda dari dalam tas dan mulai memakainya, Dian juga melakukan hal yang sama. Aku merasakan suasana mulai hening dan semua anak memandang ke arah kami. Mungkin karena kami yang pertama kali punya jas hujan kecil seperti ini di kelas.
            Jas hujan kami berwarna biru muda dengan model yang sama persis, atasan baju lengan selutut dengan hoodie pelindung kepala dan bawahan celana panjang. Hanya gambar pada jas hujan itulah yang membedakannya. Kami memakainya secepat kilat hingga melupakan satu hal, bagaimana dengan tas kami?
            “bagaimana caramu memakai tas?” celetukku pada Dian. Ia memandangku dengan pandangan yang sama.
            “coba kita pakai dulu tasnya lalu kita pakai jas hujannya” jawabnya. Kami mencobanya. Tiba-tiba segerombolan anak lelaki terbahak sambil berteriak ke arah kami.
            “hei, ada orang bungkuk! hahahahaa”
            Wajah kami memerah karena malu, benar juga... kami jadi terlihat seperti orang bungkuk. Lagi pula ternyata jas hujan ini sama sekali tidak melindungi sepatu kami. Aku cepat-cepat menanggalkan jas hujan yang sudah dua kali kupakai itu kemudian berpikir keras.
            “bagaimana kalau kita bungkus tas dan sepatu kita dengan jas hujan ini? tak masalah baju kita basah, nanti kan bisa dijemur? Tapi kalau sepatu dan tas lama sekali keringnya” jelasku pada dian panjang lebar. Dian sepertinya setuju dengan ide cemerlangku dan perlahan membuka jas hujannya. Kami membuka sepatu dan kaos kaki lalu membungkusnya dengan atasan jas hujan bersamaan dengan tas. Setelah rapi terbungkus, kami mulai bersiap-siap keluar kelas.
            “kalian ini sedang apa?” Tanya Sofia yang dari tadi memperhatikan kami dengan raut keheranan di wajahnya. Kami tersenyum bersamaan.
            “maaf sof, kami tak bisa pulang denganmu karena kami harus lari secepat kilat sambil membawa ini” kata Dian seraya menunjuk bungkusan yang mirip kantong sampah berwarna biru. Aku mengangguk. Sofia hanya mengedikkan bahunya seakan berkata “terserah” dalam hati.

            Aku berlari sekuat tenaga bersama Dian menerjang hujan yang sepertinya tak mau mengalah sama sekali. Karena tas dan sepatu kami lumayan berat, kami menyeretnya sepanjang jalan menuju rumah. Rasanya menyenangkan sekali. Entah mengapa aku merasa puas karena jas hujan ini bisa melindungi tas dan sepatuku dengan sempurna meskipun kami harus berkorban basah kuyub demi itu.
            Akhirnya kami berpisah dipersimpangan jalan, masih dengan tawa penuh kemenangan. Dengan polosnya aku membuka pintu rumah dan menerobos masuk menuju dapur. Seantero ruangan jadi bau tanah dan basah oleh air yang menetes dari sekujur tubuhku. Setelah melemparkan bungkusan tas dan sepatu, aku langsung ke kamar mandi untuk berbilas sebelum kemudian ibu muncul dari dalam kamar dengan suara seperti tercekik.
            “Masya Allah nak… kok bisa basah semua to nduk…” aku meringis tanpa dosa dan menjelaskan apa yang baru saja aku lakukan.
            “Ya Allah… coba lihat ini!” ibu mengambil jas hujan yang membungkus tas dan sepatuku dan melebarkannya agar aku bisa melihat dengan jelas. Seketika itu juga rasa puas dan bangga dalam dadaku menguap begitu saja ketika melihat jas hujanku dalam kondisi sangat kritis. Terdapat lubang dan sobekan dimana-mana dan kotornya……minta ampun.
            “kalau sudah seperti ini tak mungkin bisa kamu pakai lagi” ujar ibu, nadanya terdengar sedih. Setelah itu aku hanya bisa meratapi jas hujan biru muda yang baru saja aku pakai hari ini sambil terisak keras. Ibu tak henti-hentinya mengatakan “sudahlah, kita beli yang baru dengan kesepakatan tak boleh memakainya untuk membungkus apapun lagi”. Tapi aku menolaknya. Tidak jas hujan lagi.

            Esoknya di sekolah. Kulihat raut wajah Dian sama muramnya denganku, aku tak tahu apakan nasib jas hujannya sama seperti jas hujanku atau malah lebih parah. Aku tak mau bertanya, karena sejak itu kami memutuskan untuk tidak membahas apapun yang berhubungan dengan jas hujan.
            “Lin, Dian, coba lihat jas hujan baruku!” kata beberapa anak di kelas seusai sekolah. Mereka mengeluarkan setelan jas hujan seperti punya kami dengan warna-warna yang kekanakan, menurutku. “Keluarkan jas hujan kalian, kita pulang sama-sama yuk!”
            “percuma pakai jas hujan, yang penting kan kepala kita terlindungi dari hujan” kata Dian seraya berjalan keluar kelas dengan payung kecil seukurannya.
            Aku menahan air mata sekuat tenaga sambil membuka payung BRI milik ibu yang kebesaran lalu berlari pulang menuju rumah.
____________________________________

Read More

Semangkuk Cinta #2


Rogojampi, 2004 |

            “Assalamu’alaikuuuum…” teriakku ketika masuk kelas dengan menenteng sekeresek besar bungkusan-bungkusan susu kedelai di tangan kananku.
“Wa’alaikum salam!” Sontak sebagian penghuni kelas mengerumuniku. Dengan santainya aku meletakkan keresek itu di atas bangkuku dan membiarkan teman-teman mengambil pesanan mereka. Satu persatu mereka menyodorkan uang receh lima ratus rupiah ke arahku yang langsung aku masukkan ke dalam saku. Tak beberapa lama bel masuk berbunyi.
            “sayang nggak bisa diminum sekarang, sudah masuk” bisik Dian, teman sebangkuku. Aku senang melihat wajah kecewanya ketika memasukkan bungkusan susu kedelai ke laci bawah bangku.
            “sst…kita minum diam-diam saja selagi pak guru menjelaskan!” balasku berbisik. Kami berdua terkikik bersamaan, namun memutuskan untuk meletakkannya kembali dalam laci.

            “ini bu, lima ribu” aku memberikan uang receh kepada ibu.
            “lho? Kan tadi ibu bawakan dua belas bungkus?”
            “yang dua aku minum sendiri” jawabku tanpa dosa.
            “kan Lin sudah bawa satu untuk diminum? Jadi totalnya tiga belas bungkus”
            “ah…berarti aku minum tiga bu! Hehehe”
            Ibu hanya tertawa menggelengkan kepalanya seraya meletakkan uang receh itu ke dalam gelas plastik di atas kulkas. Aku meminta gelas itu, menumpahkan isinya ke lantai dan mulai menghitung hasil yang kami peroleh hari ini. Semakin bertambah dari hari pertama kami menjualnya.
            Ibu juga menambah bahan kedelai lebih banyak dan hampir tiap malam aku menemani ibu membungkus susu kedelai, terkadang aku dan adik mengerjakan PR disamping ibu yang tengah serius membungkus atau membantunya mengaduk-aduk susu kedelai dalam panci di atas kompor. Ibu memberikan perasa buah-buahan pada susu kedelai yang sudah akan dibungkusnya. Aku dan adik mendapat kesempatan memilihkan rasa-rasa itu dan selalu berharap ada sisa di baskom yang terlalu sedikit untuk ikut dibungkus.
Ibu… Ibu yang tak pernah berhenti tersenyum meski harus semalaman mengerjakan itu setelah seharian membereskan pekerjaan rumah dan memasakkan makanan untuk kami bertiga setiap hari…

|| Rogojampi, 1999 ||

            “lho? Kok ibu ikut mengantar juga?” lirihan pelan yang kutujukan pada ayah rupanya terdengar juga oleh ibu.
            “ibu kan juga ingin melambaikan tangan ketika Lin masuk ke dalam sekolah” bisik ibu di dekat telingaku. Aku hanya menunduk.
            Sehari sebelumnya Shinta pernah berkata padaku dan teman-teman yang lain. Bahwa anak yang diantar sekolah oleh ibunya itu adalah anak manja dan dia tidak mau berteman dengan anak manja. Ada diantara teman-temanku yang ikut mendengarkan menangis seketika karena ibunya tak hanya mengantar, tapi bahkan menunggunya hingga sekolah usai. Bagaimana jika Shinta tak mau berteman denganku lagi?
            “sudah yaah….sampai sini saja!”
            “kenapa?” meski keheranan ayah tetap menghentikan motor di depan masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari sekolahku, Aisyah Bustanul Atfal. Seketika aku bergegas turun dari motor. Ibu yang duduk di belakang ayah sambil menggendong adik, menghentikan langkahku.
            “kenapa to nduk?”
            Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin sekali menangis. Namun aku berhasil mencegahnya dengan berteriak kepada ibu.
            “Lin malu kalau ibu ikut mengantar!” aku berlari ke arah gerbang sekolah tanpa berpamitan dan tanpa melihat ke belakang lagi. Langkah kakiku yang pendek membuat gerbang terasa sangat jauh. Aku tahu ibu masih memandangiku di depan masjid dengan pandangan sedih.
            Sejak awal ibu memang tak pernah mengantarku apalagi menungguiku di sekolah. Hanya pada saat pertama kali aku masuk sekolah, karena ibu harus merawat adik yang masih berumur kurang dari dua tahun. Kakiku berhenti berlari. Kutangkupkan kedua telapak tangan ke wajahku dan menangis. Aku ingin melihat ke belakang sekali lagi. Apa ibu masih berdiri disana? Apa ibu juga menangis sama sepertiku? Apa ibu masih ingin melambaikan tangan padaku seingin aku melambaikan tangan padanya? Tapi aku tak pernah tahu.
Read More

Senin, 14 Mei 2012

Goresan



Tersenyum dalam pahit
Menangis di bawah hujan
Menyembunyikan luka di tengah tawa
Dan merefleksikan kesedihan di atas kertas…

Semua itu melelahkan
Tapi itulah hidup
Kadang ada hal-hal yang tak perlu diketahui orang lain
Tentang bagaimana cara kita menjalani hdup...

By: Ai Lynn
Read More

Jumat, 30 Maret 2012

Puisi


Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu

Pernah warnai dunia
Puisi terindah ku hanya untukmu


Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi

Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

By: Jikustik
Read More

Jumat, 23 Maret 2012

How Can I Not Love You


Cannot touch
Cannot hold
Cannot be together

Cannot love
Cannot kiss
Cannot have each other

Must be strong
and we must let go
Cannot say
What our heart must know

How can I not love you
What do I tell my heart
When do I not want you

Here my arms
How does one walks away
from all the memories
How do I not miss you
When you are gone...

Cannot dream
Cannot share
Sweet and tender moments

Cannot feel
How we feel, must pretend it's over

Must be brave
and we must go on
Must not say
What we've known all along

How can I not love you
When you are gone...
Read More

Jumat, 23 Desember 2011

Tersenyumlah, Ibu...


Masih ingatkah ibu, bagaimana kita menghabiskan tiap-tiap malam dengan kebersamaan? Ibu selalu tertawa mendengar gurauanku, meski aku tahu itu tidak lucu sama sekali. Hati ibu menangis, aku tahu itu, tapi ibu selalu menyembunyikannya. Ibu selalu mengatakan segalanya akan baik-baik saja, tapi aku tahu ibu sendiri tak yakin dengan kata-kata itu. Aku membaca cerita ibu, yang selalu berusaha ibu
Read More

Rabu, 07 Desember 2011

silent


I cried silently, without tears.
I'm just too fragile to just smile

My heart and nervous upset,
because now I actually own,
silent in the darkness.

Dark does not want to get away,
cloudy reluctant to share the place for stars,
even the moon continues to dim the light ...

tonight I bear grief alone,
suffering in this dark I enjoyed myself,
and I felt this anxiety in the dark alone.

Hopes and dreams all slowly away from my mind.
I could no longer withstand the pain out of nowhere,
when all my loved ones one by one go and leave me alone.

Despair washed over me,
not sure the morning will come with a new story for me,
worry about the sun never want to say hello to me anymore ...

By : Ai Lynn
Read More

Not like a stars in the sky


Tears were entire,
along with all my hopes of happiness ..

I'm tired of all artificiality my world,
with dreams that are so difficult I achieved ..

I can not afford such a star,
which makes every heart happy with the light ..

I'm nothing more than an attempt fireflies light up the darkness around me,
though not as bright as the stars ...

By : Ai Lynn
Read More

Jumat, 28 Oktober 2011

Bahagialah, apapun yang terjadi



Aku tak mengharapkanmu selalu hadir saat aku membutuhkanmu. Tidak, aku bahkan tak pernah memintamu untuk bisa memahami jalan fikiranku. Meski setiap saat aku selalu berharap bisa menjadi kekuatan bagimu, bisa menjadi semangat yang membuatmu mempertahankan senyuman itu sampai kapanpun, aku ingin melihatmu dari dekat, dan merasakan apa yang sedang kau rasakan. Aku selalu berusaha untuk memahami kerumitan ceritamu, mencoba menyederhanakan tiap istilah di otakmu, tapi tak semudah itu bagiku. Aku terlalu bodoh karena berharap bisa sejajar denganmu, tak ubahnya seperti kunang-kunang yang mencoba menerangi langit di siang hari. 
Bagiku, senyummu adalah satu-satunya penerang nyata dalam kehidupan gelapku, yang membuatku berani bermimpi tentang hal-hal yang mungkin saja mustahil terjadi. Tapi aku buta tentangmu, tak mengerti apapun tentang duniamu, kepalaku rasanya kosong dengan hal-hal yang tidak aku ketahui. Yang aku tahu hanyalah, begitu banyak cerita yang tidak kuketahui tentangmu.
Read More

Senin, 29 Agustus 2011

Tentang…

Ada banyak hal di luar kepalaku yang tak pernah aku duga sebelumnya…
Tentang apa yang ada di depanku,
Tentang cinta,
Tentang suka dan duka,
Tentang kebahagiaan dan penderitaan,
Tentang tawa dan tangis,
Tentang ilusi dan kenyataan,
Tentang mimpi dan harapan,
Tentang kesendirian dan kebersamaan,
Tentang cita-cita,
Tentang hidup setelah mati,
Tentang musuh dan persahabatan,
Tentang pengorbanan,
Tentang kerapuhan hati,
Tentang ikhlas dan keputusasaan,
Tentang ketegaran,
Tentang kesabaran,
Tentang kasih dalam keluarga,
Tentang kehampaan,
Tentang dia,
Tentang mereka,
Dan juga tentangku, yang tak pernah bisa memahami waktu…

By: Ai Lynn
Read More

Aneh?

Aku tengah berada di taman kota, ketika gadis itu melihatku dan tertawa riang sambil bertepuk tangan. Tubuhnya yang mungil melompat-lompat kecil dan berlari ke arahku. Aku terdiam di tempatku berdiri, mengamati gerak geriknya yang kini sudah semakin dekat denganku. Tingginya hanya beberapa centi meter di atas lututku. Masing-masing tangan kecilnya menggenggam satu permen. Gadis kecil itu menyerahkan salah satu permen padaku. Namun aku tak bergerak, sambil terus menatapnya tajam. Ia tak menyerah dan berusaha menggapai-gapai tanganku agar mau menerima permen darinya. Aku tetap bergeming ketika ia mulai merengek atas tindakanku yang tak bisa dibedakan dengan patung.
                Gadis kecil itu memeluk lututku dengan kedua tangan yang masih menggenggam permen, dan menengadah memandangku. Mungkin sedang berusaha mengamati raut wajahku. Ia tersenyum lagi, dan kali ini senyumannya membuatku sadar. Aku melepas tangan-tangan mungil yang merangkulku erat-erat itu. Dengan segera mundur beberapa langkah menjauhinya, berbalik lalu pergi. Gadis kecil itu mencoba berlari mengejarku saat aku semakin menjauh darinya. Berteriak-teriak dengan seruan “jangan pergi” padaku, namun aku terus melangkah tak menghiraukannya.
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (3)

                Kulangkahkan kakiku menuju pemakaman. Sudah lama aku tak mengunjunginya, sudah lebih dari setengah tahun lalu. Pemakaman ini terlihat begitu damai, aku mampu merasakan ketenangan disini. Aroma bunga kamboja berebut masuk menyentuh hidungku, wangi sekali. Tak pernah kurasakan mekarnya sewangi ini sebelumnya. Matahari di ufuk Barat masih memancarkan sinarnya yang kini telah menjadi merah tembaga. Aku berhenti tepat di depan makamnya. Apa tak ada satupun orang yang mengunjunginya sebelum aku? Makam ini tampak sangat kotor dan tak terawat. Nisannya nyaris tertutup lumut dan banyak daun-daun kering menyelimuti tanahnya.

                Kuletakkan rangkaian bunga kriysan yang sejak tadi kugenggam erat, disamping makam beserta tas yang kugantungkan dipundak kiriku. Kucabuti satu persatu rumput yang tumbuh subur di atasnya dan menyingkirkan daun-daun kering.
                “Assalamu’alaikum… Maaf ya re, baru sekarang aku bisa mengunjungimu. Bagaimana kabarmu?” ucapku. “baik kan? Nah…sekarang sudah bersih. Apa kau merasa nyaman?” Kuambil sebotol air mineral dalam tasku dan menuangkannya di atas makam yang kini telah bersih.
                “hey, lihat apa yang kubawakan untukmu. Taadaa…! Bunga kriysan kesukaanmu. Kau pasti senang…” kuletakkan rangkaian bunga itu tepat di depan nisan. “ah aku lupa membersihkan nisannya… Huft, kenapa lumut-lumut ini tumbuh dan menyebar begitu cepat yah…” keluhku muram. Kuambil tisu dalam tasku lagi dan mengusapnya pada nisan hingga tulisan dalam nisan itu terlihat jelas.
                “emm… Re… Apa kau pernah patah hati? Maaf yah, aku tak sempat menanyakannya padamu…” kini nisan itu telah benar-benar bersih. “haha… bahkan aku tak pernah mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padamu…” aku merasakan air mata mengambang dipelupuk mataku.
                “aku mencintai seseorang… tapi sekarang dia juga telah pergi…” lirihku. “tahukah kau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai?” aku duduk disamping makam itu dengan menekuk kedua lututku kedada.
                “tidak, tidak… Kali ini aku yang membuat keputusan itu. Aku yang meninggalkannya, dia, orang yang kumaksud tadi…” kupandangi makamnya, lama sekali. “dia…ternyata telah mencintai orang lain. Tahukah kau bagaimana rasanya? Rasanya lebih sakit dari pada paku yang tak sengaja bersamaan kita injak didepan rumahmu, ingat?” aku tersenyum mengingat kembali kenangan itu.
                “waktu itu aku pikir aku akan mati kehabisan darah. Hahaha…” tawaku. Kini memandang ke arah matahari. “apa tadi aku sudah menyebut namanya? Emm, aku biasa memanggilnya Pangeran Senja. Kau tau, dia juga pernah memanggilku Putri Bintang. Sama seperti sebutanmu padaku dulu”
                “tapi dia berbeda denganmu, tentu saja. Kau selalu menghinaku jika aku berkata yang indah-indah tentang langit, tapi dia tidak. Kau sering mentertawakan aku kalau aku berangan-angan tentang bintang, tapi dia tak akan pernah melakukan itu. Hanya saja…dia… Yah, kalian memang berbeda…” entah mengapa air mataku menetes lagi tanpa sebab.
Read More

Symphoni Hening (3)

“kenapa? Bukankah itu hal yang bagus?” aku mengerutkan keningku. Namun dia hanya mengangkat bahunya dan kembali tersenyum.
                “sudahlah… Hey, ini sudah larut malam, lebih baik kau pulang”
                “dan meninggalkan ibu sendiri disini? Tidak akan.” Jawabku jelas. “aku akan tidur di…”
                “kau perlu menyiapkan segala sesuatunya, juga kebutuhan ibumu. Pulanglah, biar aku yang menjaganya” aku memandang mata Reihan, ada ketulusan dalam raut wajahnya. Sebelumnya aku tak bisa mempercayai laki-laki, apalagi setelah tahu apa yang telah dilakukan ayah terhadap ibu. Namun entah mengapa aku menaruh kepercayaan kecil padanya, pada Reihan. “pulanglah… lihat rambutmu, kau bahkan lebih parah dari pasien-pasien disini” Raihan tertawa. Aku tersadar, rambutku! Aku tak memakai jilbab sewaktu kesini. Reflek aku menutupi kepalaku dengan kedua tangan.
                “ah…aku lupa…” lirihku. Aku benar-benar malu, bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan seperti ini?
                “pakai ini” Reihan mengulurkan selembar kain padaku. Dia mengerti apa yang tengah aku pikirkan. Tanpa bertanya lagi aku mengambil kain itu dan membentuknya sedemikian rupa hingga menutupi rambutku dengan aman. Setelah itu Reihan berdiri dan mencari sesuatu dari bawah ranjangnya dan mengeluarkan jaket, sandal, juga beberapa lembar uang dari saku piamanya. “ambil ini, dan ini (menyerahkan uang padaku) kau tak perlu berlari lagi kembali ke rumah. Oke?” cengirnya.
                “kau… mengapa…”
                “jangan bertanya lagi dan cepatlah pulang. Kau berani pulang sendiri kan?” Reihan memotong kalimatku.
                “tentu saja. Baiklah, aku pulang… Terimakasih Reihan, aku akan kembali sebelum matahari terbit” aku membalas senyumannya, dan melangkah keluar kamar. Aku percaya padanya…

                Esoknya,
                “bangun” aku mendengar suara Reihan, dan mengerjapkan mata beberapa kali. Kuamati ruangan disekitarku, dan juga ibu yang sedang ternyenyak dihadapanku.
                “jam berapa sekarang?” tanyaku sambil menguap. “ah, apakah ibu belum sadar juga?”
                “setengah lima pagi. Belum, tapi sepertinya ibumu sudah lebih baik” Reihan memakai peci dan sarung. Aku mengamatinya sejenak, raut wajahnya nampak sangat lembut. “kau belum sholat kan? Diujung koridor sana ada mushola” ucapnya ringan.
Read More

Ilusi

   Malam ini, hamparan bintang di angkasa membirai pandanganku. Seindah matahari saat turun keperaduannya. Aku membaringkan tubuhku di atas rerumputan di samping rumahku. Angin malam menyapaku lembut lewat semilirnya. Kuarahkan mataku pada benda paling terang di antara beribu bintang. Setidaknya itulah yang kulihat dalam pandanganku…
                “hai bulan… malam ini aku mmerindukanmu…” sapaku pelan. Aku tersenyum pada bulan, berharap dia bisa membalas sapaanku, meski hanya sekedar tersenyum.
                “hai juga…”
                Aku terlonjak mendengar suara barusan, berusaha mencari tahu dimana sumber suara itu berasal. Namun nihil, aku tak menemukan siapapun disekitarku selain rumput-rumput yang bergoyang ditiup angin dan siluet lampu kamarku yang masih menyala.
                “siapa kau?” tanyaku ragu.
                “aku bulan” lagi-lagi suara itu membalas. Aku melirik bulan yang bersinar semakin terang di atas kepalaku. Mungkinkah?
Read More

Catatan kecil tentang Pangeran Senja (2)

“kenapa kau menangis sayang?” aku menengadah mencari sumber suara itu. Bayangan anggun di depan mataku nyaris membuatku tak mengenali sosok ibu.
                “ibu…” aku memeluk pinggang ibu erat-erat, hingga air mataku jatuh membasahi busananya. Ibu membalas pelukanku.
                “ceritakan pada ibu nak, siapa yang tega membuatmu sesedih ini?” ibu membelai lembut rambutku yang tergerai panjang, dan menunggu jawabanku dengan sabar.
                “tidak ibu, akulah yang telah membuatnya sedih…” isakku. “dia… Pangeran Senja… aku membuatnya terluka…” aku terisak semakin keras dalam dekapan ibu.
                “kenapa kau lakukan itu Bintangku…?” Tanya ibu, sambil melepaskan pelukanku perlahan dan menghapus air mataku dengan ujung lengannya.
                “aku tak mengerti apa yang aku lakukan ini benar atau tidak… Tapi aku…aku tak bisa memenuhi janjiku untuk selalu bersamanya, ibu…” suaraku terdengar sangat aneh di telingaku. “aku mengatakan hal yang sama sekali tak ingin kuungkapkan. Aku hanya tak ingin…dia melihatku yang seperti  ini lagi…”
                “putriku… lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Dan jangan pernah menyesali keputusan yang telah kau pilih sendiri. Kehidupan manusia itu bagaikan roda yang berputar, kadang sedih dan kadang bahagia. Tak selamanya kau akan merasakan kebahagiaan…”
                “ibu, pernahkah aku merasa bahagia sejak ibu meninggalkanku?”
                “sayang…” lirih ibu sedih.
                “pernahkah terlintas dipikiran ibu kalau aku akan baik-baik saja tanpa ibu? Aku rapuh bu… hatiku bagai kertas putih yang telah hangus termakan api, jika angin meniupnya, maka habislah sudah… hatiku akan terbang kemana angin akan membawanya… Aku tak pernah bahagia sejak ayah, ibu, pergi satu persatu dalam kehidupanku… Tidakkah ibu mengerti akan hal itu…?”
Read More

Sabtu, 02 Juli 2011

Rapuh...

Angin laut menerpa keras wajahku, membuat kerudungku berkibar pelan di belakang. Kurasakan dinginnya angin malam, kudengarkan deburan ombak yang saling berebut mencapai karang, ataupun suara burung-burung laut yang berceloteh riang. Bisa kucium aroma asin air laut yang menyngat hidung.

Kurentangkan kedua tanganku melawan angin. Aku heran, karena masih mampu menahan hembusan angin yang perkasa ini.
Ya, harusnya aku bersyukur, karena ragaku tak serapuh hatiku, karena otak dan pikiranku masih sanggup bekerja normal, dan karena aku masih bisa tersenyum dalam tangisan, meski hatiku telah menjadi serpihan dan bahkan telah terbang jauh bersama angin...

Namun entah mengapa kali ini, aku juga berharap ragaku dapat menghilang bersamanya...
Read More

Selasa, 14 Juni 2011

Impian, harapan, keteguhan...

Dengan gelap mata dan langkah tertatih,
aku berusaha menuju apa yg hendak kutuju.
Dengan kebisuan, aku tetap bercerita kepada dunia tentang apa yang ingin aku tuju.
Dengan tangisan, aku tetap tersenyum untuk menemui apa yang sedang aku tuju.
Engkau bisa saja membuatku buta dan mematahkan kedua kakiku,
atau menghilangkan semua panca indra dan senyumanku.
Tapi jangan pernah menyuruhku untuk menyerah...
Engkau boleh membuatku terpuruk atau menghancurkan hatiku hingga menjadi serpihan,
Tapi jangan pernah berharap aku akan menyerah...
Silahkan saja Engkau mengambil segala yg aku miliki,
tapi jangan pernah memohon agar aku menyerah...
Meski aku bukan NabiMu yang sempurna dalam segala hal,
tapi aku tetap mempunyai kemampuan utk tidak menyerah.

Tak akan pernah aku lakukan itu.
Tidak sebelum Kau melepas jiwa dari ragaku dan membiarkannya terbang bersama angin,
hingga aku tak dapat menemukannya lagi.
Namun sebelum saat itu tiba,
hsilahkan saja Engkau lakukan apa yang ingin Engkau lakukan terhadapku.
Tapi jangan pernah memaksaku untuk menyerah...
Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena