✿ stay simple, stay humble ✿

Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslimah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Wanita Pertama Yang Masuk Surga


Assalamu'alaikum, wr, wb... 
 
Dan siapakah nama wanita itu? Dia adalah Muti’ah.
Kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.
Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa.
Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

Subhanallah.

***
Sumber: Kaskus.us
Wassalamu'alaikum, wr, wb...
Read More

Sayidatina Fatimah r.a




Assalamu'alaikum, wr, wb

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Dibalik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah SWT. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sembahyang, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.
Diwaktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah SAW.
Setelah menikah kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.a, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah SWT untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang kepergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir. Kadangkala dia lapar sepanjanghari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu menceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah SAW. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali, kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu. Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.a sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah SWT mengangkat derajatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Selain itu, kemiskinan tidak menghalangi Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari
Read More

Jumat, 06 April 2012

Karena Allah Telah Memutuskan Segalanya



                Suatu ketika terdapat seorang wanita yang sungguh indah parasnya. Wanita itu benar-benar cantik rupawan dan mempunyai akhlak yang baik. Hingga suatu saat ia sangat beruntung karena Allah memberikannya suami yang sangat rupawan pula. Mereka sungguh pasangan yang sangat serasi.
                Setelah hampir setahun pernikahannya, tanpa diduga sang istri yang cantik jelita tersebut mendapat musibah dari Allah SWT., yaitu penyakit kulit yang ganas dan menjadikan parasnya yang ayu terlihat menakutkan. Penyakit itu terjadi dalam waktu singkat dan membuatnya sungguh menderita. Namun ia tak berani sedikitpun memberitahu suaminya akan hal ini karena takut sang suami akan jijik lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
                Penyakit itu semakin lama semakin menyebar keseluruh tubuhnya, hingga pada akhirnya ia berani mengambil suatu keputusan untuk bercerai dengan suami yang sangat dicintainya karena ia merasa sudah tidak pantas lagi berada di samping suaminya yang rupawan.
                Ketika pagi menjelang, sang istri sengaja membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas sambil berusaha menahan air matanya yang hendak menetes. Ia tahu, Allah pasti akan marah padanya karena telah berdusta pada suaminya supaya bisa bercerai bercerai dengan alasan-alasan yang telah ia siapkan matang-matang.
                Namun saat suaminya terbangun, ia terkejut mendengar perkataan sang suami dengan tatapan mata yang tidak terfokus pada apapun. Suaminya berkata,
                “Mengapa adinda membangunkanku dalam kegelapan seperti ini? Bukan lebih baik jika lampunya menyala terlebih dahulu?”
                Sang istri tercengang sambil perlahan memandang heran ke arah sinar lampu yang terang benderang di atas kepala mereka. Perlu waktu beberapa menit sebelum akhirnya ia sadar dengan keadaan suaminya tersebut, meski tidak mengerti dengan pasti sebab kebutaan yang tiba-tiba dialami sang suami.
     Kemudian ia bersimpuh dihadapan suaminya dengan menangis tersedu. Dalam hati ia beristigfar dan berulang kali mengucap Alhamdulillah karena Allah masih memberinya kesempatan untuk terus bersama dengan suami yang sangat dicintainya itu tanpa harus menanggung malu karena keadaan dirinya. Meski sebenarnya ia tak tega melihat suaminya kini menjadi buta seperti itu.
                Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan merawat dan melayani suaminya dengan baik hingga ajal menjemputnya kelak. Sang suami juga terlihat ikhlas menerima keadaannya dan tidak pernah mengeluh pada istrinya meski hingga kini mereka belum dikaruniai seorang anak.
                Tahun demi tahun pun berlalu, tapi kebahagiaan yang dirasakan sang istri masih sama seperti pada awal-awal pernikahannya dulu. Hingga akhirnya istri yang cantik jelita tersebut dipanggil terlebih dulu oleh Allah, dan sudah pasti, ia meninggal dalam keadaan tenang dan damai di samping suaminya.
                Sang suami, tentu saja, sangat sedih karena kehilangan seorang istri yang sholehah yang mencintainya dengan tulus. Dan ketika suami tersebut hendak ikut mengantarkan jenazah istrinya ke pemakaman, orang-orang yang datang melayat terkejut bukan main melihatnya berjalan tanpa tongkat layaknya orang normal. Salah satu diantara mereka bertanya,
                “Bukankah beberapa hari lalu anda adalah seorang yang tidak dapat melihat (buta)?”
                Mendengar hal itu sang suami hanya tersenyum dan berkata,
                “Rupanya Allah telah berkehendak lain”
                Akhirnya semuanya terungkap, bahwa selama bertahun-tahun sang suami itu berpura-pura buta hanya untuk menghormati istri yang sangat dicintainya. Bahkan hingga akhir hayat sang istri, cintanya tidak berkurang sedikitpun walau sebenarnya ia mengetahui sejak awal penyakit yang diderita istrinya. Maha Besar Allah yang telah menggariskan kehidupan yang terbaik untuk keduanya.

 _________

Cerita ini kutulis berdasarkan kisah yang diceritakan Dian (sahabatku), dan aku tertarik untuk membagikannya pada orang lain. Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar kisah ini sebelumnya. Semoga kita mendapat pelajaran dari ini :)
Read More

Rabu, 21 Maret 2012

Kekuatan Doa


Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan. Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.
“Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”
Read More

Jumat, 16 Maret 2012

Fadhillah Wanita


Point-point  ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadhush  Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain, checking  satu persatu belum dibuat. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.
  1. Doa wanita lebih maqbul dari lelaki kerana sifat penyayang yang lebih  kuat dari lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut,  jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang  tidak akan sia-sia.”
  2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1,000 orang lelaki yang tidak  soleh.
Read More

Wanita Penghuni Syurga


Ketika Baginda Rasul SAW mengatakan, “Penghuni Neraka kelak lebih banyak kaum wanita”. Maka salah satu sahabat bertanya, ya Rasulullah. Apakah mereka tidak gemar beribadah kepada Allah?
“Bukan”, jawab Rasulullah SAW.
“Lalu kenapa?”, tanya sahabat.
“ Mereka bahkan lebih taat menjalankan Sholat, puasa dan hadir dalam majlis ta’lim tapi mereka tidak bisa menjaga kehormatan suaminya”. Diantaranya:
Read More

Minggu, 04 Maret 2012

Obrolan Tentang Jilbab


Assalamu'alaikum...

Aku dapet ini dari Wawank (dia ngepos dicatatannya di facebook), karena tertarik banget, jadinya aku minta izin ke dia buat copas ke blogku, hehehe ^_^
Langsung saja, check this out !

______________

Aku capek "

"capek apa?"
"Dari semua orang-orang yang menghakimi aku."

"Siapa yang menghakimimu?"
"Seperti perempuan itu, setiap kali aku duduk bersamanya, ia menyuruhku memakai jilbab."
Read More

© Lintangra, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena